Astra Agro Nyatakan Industri Kelapa Sawit Dihadapkan Pada Tantangan Besar

Astra Agro Nyatakan  Industri Kelapa Sawit Dihadapkan Pada Tantangan Besar

JAKARTA  - PT Astra Agro Lestari Tbk menyebut industri kelapa sawit sedang dilanda tantangan belakangan ini.

Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk Santosa mengungkap salah satu tantangan terbesar datang dari harga crude palm oil (CPO) yang menurun pada 2023 lalu.

"Penurunan harga yang tajam ini menimbulkan koreksi kinerja keuangan industri kelapa sawit Indonesia, termasuk perseroan (kami)," kata Santosa di Jakarta, Selasa (23/4).

Selain harga, ia mengatakan tantangan juga datang dari produktivitas sawit. Ia mengatakan sekitar 46 persen dari tanaman sawit nasional sulit bertumbuh oleh karena usianya yang cukup tua.

Sedangkan tantangan ketiga datang dari siklus El Nino pada 2023. Iklim yang buruk itu membuat panen CPO tidak mendapat hasil yang maksimal.

Bagi Astra, tantangan tersebut cukup memberikan dampak. Salah satunya ke pendapatan.

Perseroan hanya bisa menorehkan pendapatan bersih sebesar Rp20,74 triliun pada 2023. Pendapatan itu turun sebesar 5 persen dari 2022 yang masih bisa tembus Rp21,83 triliun.

Penurunan pendapatan tersebut turut berdampak pada laba yang dapat dibagikan perusahaan yang mengalami penurunan 38,8 persen dari Rp1,72 triliun menjadi 1,06 triliun.

Meski begitu, Santosa optimistis dalam menghadapi masa depan industri ini. Santosa dalam hal ini melihat replanting sebagai solusi nyata jangka panjang dalam mengatasi kondisi perseroan saat ini. Terbukti dari tahun 2023, mereka berhasil melakukan replanting.

Replanting (peremajaan kelapa sawit) merupakan salah satu metode yang bisa digunakan untuk mencapai keberlanjutan dalam industri sawit. Hal ini dapat meningkatkan hasil dan kualitas buah sawit tanpa perlu membuka lahan baru.

"Sepanjang tahun 2023, perseroan berhasil meremajakan perkebunan seluas 4.713 hektar dengan bibit unggul dari hasil pengembangan research and development kami. Hal ini menjadi strategi perusahaan dalam peningkatan produktivitas jangka panjang," tambah Santosa.

Ke depannya, ia akan membuat target baru dengan melakukan replanting pada lahan seluas 4.500 hingga 5.000 hektar.

"Kalau target planting, kita akan mengambil acuan sekitar minimal 4.500, kalau bisa 5.000 hektar," lanjutnya.(*)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index