Politik

Jimi Hantu : Bilang Nasionalis Tapi Tidak Patriotis Itu Mbelgedes

Semua orang mengaku nasionalis. Bilang sebagai bangsa Indonesia. Tapi mereka tidak punya jiwa patriotis. Tubuhnya hanya sebagai etalase asing. Malah ada yang menjual diri pada asing. “Ini namanya mbelgedes. Omong kosong, omong doang,” kata Jimi Hantu. Jimi Hantu adalah penemu. Dia menemukan hormon untuk tumbuhan yang disingkatnya ‘Hantu’. Produk pupuk itu yang kini banyak dipakai masyarakat petani di Indonesia. Penemuan ini juga bukan dilatari kepentingan bisnis. Dia menemukan hormon unggulan itu karena keinginannya untuk mengangkat harkat dan martabat petani. Istilah dia, untuk melahirkan petani berdasi. Petani yang kaya, makmur dan sejahtera. Maka ketika produk-produk unggulan Indonesia dihajar asing, juga warga Indonesia yang mendukung kepentingan asing, maka Jimi dengan sinis menyebut mereka itu bukan patriotis, apalagi nasionalis. “Seorang patriotis pasti nasionalis. Tapi kalau bilang nasionalis tetapi tidak patriotis, dia itu hanya nasionalis abal-abal. Jangan lagi negara, dirinya pun dijualnya kalau laku,” katanya sambil terbahak. Itu diungkapkan Jimi Hantu pada SawitPlus.com ketika dia berkunjung ke Kota Pekanbaru, Minggu (16/7/2017). Dia menjadi geram ketika kesejahteraan rakyat, utamanya petani sawit mulai diacak-acak. Bahkan dia pun menyayangkan pemerintah yang terkesan masih mendua. “Para petani sawit itu terbukti patriotis. Mereka puluhan tahun ‘dibuang’ ke hutan, berjuang melawan keganasan alam, kekurangan makanan. Kini setelah mereka berhasil mau disuir dengan alasan lahan gambut dan sebagainya. Apa maunya pemerintah dengan melahirkan PP Gabut itu. Kalau asing pasti, karena tujuannya agar bangsa ini tidak mandiri,” katanya keras. Untuk itu, kata Jimi Hantu, sekarang ini banyak orang ‘nasionalis abal-abal’, mengaku nasionalis, tetapi menjual negara. “Ini yang harus selalu kita kritisi dan kita lawan,” kata Jimi yang kini terdaftar sebagai mahasiswa pascasarjana IPB itu. jss


[Ikuti SawitPlus.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar