JAKARTA - Program biodiesel berbasis kelapa sawit terus menunjukkankontribusi nyata bagi ketahanan energi nasional sekaligusperekonomian Indonesia. Sejak dijalankan secara bertahaplebih dari dua dekade terakhir, konsumsi biodiesel melonjaksignifikan, menghasilkan penghematan devisa ratusantriliun rupiah dan menekan emisi karbon.
Hal itu mengemuka dalam Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026: Dukungan Program Biodiesel Bagi Kemandirian Energi dan Perekonomian Indonesia yang digelar di Depok, dari 5-6 Februari 2026. Kegiatan inididukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai bagian dari upaya peningkatan literasi publik terkaitprogram biodiesel nasional.
Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia, Qayuum Amri, menjelaskan bahwa riset biodiesel sawit telah dimulai sejak1990-an oleh sejumlah peneliti nasional. Gagasan tersebutkemudian diperkuat melalui kebijakan mandatori pemerintahsejak 2009.
“Hari ini hasilnya sangat terasa. Konsumsi biodiesel yang pada 2009 baru sekitar 1 juta kiloliter, kini sudah mencapaisekitar 15 juta kiloliter. Artinya naik lebih dari 1.100 persen,” ujarnya.
Ia memaparkan, sepanjang 2015–2025 program biodiesel telah menghemat devisa negara hingga Rp720 triliun dan menurunkan emisi sekitar 228 juta ton CO?. Menurutnya, capaian tersebut menegaskan bahwa sawit tidak hanyaberdampak ekonomi, tetapi juga memberi manfaatlingkungan.
“Masih ada anggapan program ini hanya menguntungkansegelintir pihak. Faktanya justru sebaliknya. Dampaknyabesar bagi tenaga kerja, petani, hingga harga tandan buahsegar (TBS),” katanya.
Untuk meningkatkan literasi publik, panitia melakukan field trip ke SBRC IPB University agar para jurnalis belajar dan mengenal pengembangan riset produk biofuel.
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) memiliki peranankuat dalam ekosistem sawit melalui berbagai program pendanaan sekaligus menjadi salah satu pendukungterselenggaranya workshop ini. Perwakilan BPDP, Ahmad Zuhdi, mengatakan lembaganya tak hanya mendukunginsentif biodiesel, tetapi juga pendidikan, riset, dan peremajaan kebun rakyat.
Pada 2025, BPDP menyalurkan sekitar 4.000 beasiswa bagimahasiswa di seluruh Indonesia, membiayai penelitianproduktivitas sawit, membantu program peremajaanperkebunan, hingga penyediaan sarana prasarana pertanian.
Untuk program biodiesel sendiri, BPDP menanggung selisihharga antara solar dan biodiesel sebagai insentif. Hingga akhir2025, dukungan untuk sektor PSO mencapai 6,9 juta kiloliter dengan nilai sekitar Rp35,5 triliun.
“Dana ini berasal dari pungutan ekspor sawit dan dikelolakembali untuk mendukung keberlanjutan industri,” jelasnya.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Fadhil Hasan, menegaskan biodiesel kini menjadi bagian penting kebijakanenergi lintas sektor. Ia baru saja dilantik sebagai anggota DEN bersama perwakilan pemerintah dan pemangku kepentinganlainnya.
Menurut Fadhil, pemerintah telah menerbitkan KebijakanEnergi Nasional terbaru melalui PP No. 40 Tahun 2025 sebagai pengganti aturan lama. Regulasi ini disusun untukmenjawab tantangan turunnya produksi minyak, meningkatnya impor, serta kebutuhan energi yang terus naik seiring target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
“Biodiesel berperan strategis dalam swasembada energi. Sawit dan turunannya menjadi sumber energi terbarukansekaligus mendukung ketahanan pangan,” ujarnya.
Sepanjang tahun lalu, realisasi biodiesel tercatat 14,2 jutakiloliter dan berhasil mengurangi impor solar sekitar 3,3 jutakiloliter. Capaian tersebut dinilai memberi kontribusilangsung terhadap indeks ketahanan energi nasional.
Dari sisi teknis, Subkoordinator Pengawasan Usaha Bioenergi, Direktorat Bioenergi, Ditjen EBTKE, Kementerian ESDM Herbert Wibert Victor menjelaskan bahwa biodiesel didistribusikan melalui skema pencampuran wajib (blending) di terminal sebelum disalurkan ke SPBU dan industri.
Untuk 2026, kapasitas terpasang industri biodiesel mencapai22 juta kiloliter dengan alokasi penyaluran sekitar 16,5 jutakiloliter. Realisasi 2025 sendiri telah mencapai hampir 15 jutakiloliter atau sekitar 96 persen dari target.
Pemerintah juga menyiapkan skema insentif berbasis selisihharga solar guna menjaga keberlanjutan program, termasukuntuk sektor PSO dan non-PSO.
Indonesia Jadi Role Model Dunia
Sementara itu, Sekretaris Jenderal APROBI, Ernest Gunawan, menyebut Indonesia kini menjadi salah satu pelaksanaprogram biodiesel terbesar di dunia. Menurutnya, banyaknegara menjadikan Indonesia sebagai rujukan karena suksesmenjalankan mandat campuran hingga B40 secara nasional.
“Kita sering disebut ‘big brother’ biodiesel. Skala kita paling besar di dunia,” ujarnya.
Ia menambahkan, program B40 saja telah melibatkan sekitar1,9 juta tenaga kerja dari hulu hingga hilir serta menghasilkanpenghematan devisa sekitar Rp140 triliun pada 2025.
Aprobi menyatakan industri siap meningkatkan kapasitasmenuju B50, namun implementasinya perlu dilakukan hati-hati agar tidak mengganggu pasokan bahan baku dan kebutuhan pangan.
“B40 saat ini sudah ideal dan berkelanjutan. Ke depan kitatetap optimistis, selama kebijakan disiapkan matang bersamasektor hulu,” kata Ernest.(lin)
