Industri

Flu Babi Mewabah, China Kurangi Impor Kedelai

JAKARTA-China dalam beberapa bulan kedepan, sepertinya harus mengurangi impor kedelai. Mengingat saat ini negeri tirai bambu ini dilanda flu babi Afrika, yang sudah terjadi sejak tahun lalu. Kedelai dimanfaatkan untuk pakan hewan tersebut. 

Negara konsumen terbesar kedelai dunia ini sudah memusnahkan lebih dari satu juta babi, setelah 122 wabah melanda 30 provinsi. Akan tetapi, penyakit ini tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Pertama kali ditemukan di Afrika pada 1900-an, flu babi Afrika sudah membunuh sebagian besar babi yang terinfeksi dalam 10 hari.

Sejumlah analis memperkirakan, upaya menyingkirkan penyakit dan mengumpulkan kawanan hewan tersebut di negara yang mengkonsumsi setengah daging babi dunia itu akan memakan waktu 3 hingga 5 tahun mendatang. Dengan begitu, berdampak pada permintaan kedelai yang digunakan untuk pakan hewan tersebut.

Corey Jorgenson, Kepala Komoditas Agrikultur The Andersons mengatakan, saat ini demam babi Afrika adalah kisah persoalan yang besar menyangkut permintaan kedelai global.  

"Hal ini akan berdampak pada kami untuk satu tahun panen atau lebih. Bukan hanya tahun ini," katanya dikutip dari Bloomberg, Rabu, 17 April 2019.

Sementara, Rabobank memperkirakan, produksi daging babi di China kemungkinan akan menurun sekitar 30% pada tahun ini.  Sebuah penurunan setara dengan pasokan tahunan babi Eropa. Bank tersebut juga menyatakan, setidaknya akan membutuhkan 3 tahun untuk masa pemulihan dari wabah penyakit tersebut.

Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan China pada pekan lalu melaporkan,  jumlah induk babi yang berkembang biak di China sudah merosot 21% pada Maret tahun ini dari tahun sebelumnya.

Departemen Pertanian AS dan perusahaan jasa keuangan INTL FCStone sudah memperkirakan, akan terjadi penurunan atau perlambatan pertumbuhan impor kedelai China untuk beberapa tahun ke depan.

Arlan Suderman, kepala ekonom komoditas untuk INTL FCStone mengatakan, struktur industri daging babi China membuatnya hampir mustahil untuk menghentikan penyebaran demam babi Afrika. Hal itu karena sebagian besar produksi dan pemotongan merupakan industri rumahan.

"Banyak petani yang menderita penyakit ini dan mencoba untuk mengisi kembali ternak mereka, akhirnya mendapatkannya kembali virus tersebut."

David Williams, direktur protein global di Informa Agribusiness Intelligence mengatakan, pihaknya melihat bahwa produsen babi China saat ini tidak mengisi kembali fasilitas-fasilitas ternaknya karena takut terserang wabah tersebut.

"Selain itu bisa saja masih di dalam kandang dan mereka tidak bisa membersihkannya," katanya.

Sementara itu, impor kedelai China pada kuartal I/2019 turun 14%, sebagian besar karena perang perdagangan sehingga membuat pembuat pakan beralih ke bahan alternatif.  

Sementara proyeksi impor kedelai China pada kuartal II/2019 diperkirakan menjadi 88 juta ton, untuk pertama kalinya dalam 15 tahun terakhir.

FCStone juga memperkirakan, pembelian komoditas itu bisa turun lagi menjadi 71 juta ton pada 2019-2020 karena dampak demam babi Afrika.

Sedangkan USDA Foreign Agriculture Service masih memperkirakan, impor kedelai ke China tumbuh musim depan, meskipun pada kecepatan yang lebih lambat.

Secara bulanan impor kedelai China meningkat tipis 460.000 ton pada Maret 2019 menjadi 4,92 juta ton, dari 4,46 juta ton impor pada Februari 2019.

Monica Tu, Analis Shanghai JC Intelligence mengatakan, sejumlah kapal kargo kedelai yang mengalami penundaan pada Februari telah tiba di pelabuhan-pelabuhan China pada Maret 2019. “Ada beberapa hasil panen baru dari Brasil sejauh ini [yang diimpor oleh China],” katanya dikutip dari Reuters.

Namun, sambung Monica, angka-angka itu masih rendah dibandingkan dengan perolehan tahun lalu. Hal ini karena pembelian kedelai secara keseluruhan dibatasi akibat tarif dampak dari perang dagang AS dan China.

Di Chicago Board of Trade (CBOT), hingga pukul 12:28 WIB, Rabu (17/4), harga kedelai kontrak pengiriman Juli 2019 menguat tipis 0,08% atau 0,75 poin di level US$902,50 per gantang.(rdh/bc) 
 


[Ikuti SawitPlus.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar