Kolom Djoko Su'ud Sukahar : Merpati Itu Bakal Hidup Lagi

Kolom Djoko Su'ud Sukahar : Merpati Itu Bakal Hidup Lagi

PT Merpati Nusantara Airlines sudah tiada. Itu setelah kisruh berkepanjangan. Kini wacana hidup muncul lagi. Itu setelah dikabulkannya proposal perdamaian dengan kreditur oleh Pengadilan Niaga (PN) Surabaya, Rabu (14/11/2018).

Dengan putusan ini, maka maskapai pelat merah itu punya peluang untuk eksis lagi. Ini kisah perusahaan yang pernah merugi, yang rasanya rugi kalau tidak dibicarakan lagi.

Sebenarnya, detak jantung Merpati Airlines sudah pernah berdegup lagi. Itu terungkap dari jawaban Jonan, Menteri Perhubungan kala itu. Dia bertemu dengan Menteri Keuangan saat dijabat Bambang Brojonegoro di Kemenko Perekonomian, Darmin Nasution, keperluannya ‘soal privatisasi’ Merpati (Kamis, 28/1/2016).

Maskapai penerbangan Merpati ini bak namanya, burung merpati. Hanya tiga fungsi burung itu dalam interaksinya dengan manusia. Pertama sebagai tukang antar surat kala transportasi tak secanggih kini. Kedua sebagai burung aduan. Dan ketiga disembelih sebagai santapan.

Burung ini gagah, kuat, dan gampang hafal jalan pulang. Di Surabaya, burung ini banyak dipelihara. Ditren (dilatih) terbang jauh, dan ketika sudah piawai dijadikan burung aduan. Adu doro (adu burung merpati) menjadi tradisi, meramaikan musim kemarau di kampung-kampung.

Tak dinyana karakter burung itu juga hampir sama dengan perlakuan terhadap BUMN yang bernama Merpati. Itu terjadi berpuluh-puluh tahun lalu, dan tidak berubah hingga hari ini. Merpati hanya sebagai pembuka jalan, perintis rute penerbangan, usai itu dilupakan. Digrounded.

Saya merupakan salahsatu saksi sejarah maskapai ini. Sebagai wartawan The Archipelago, culture & turism magazine, saya sering terbang dengan Merpati. Soalnya majalah ini menekankan laporan petualangan, keindahan alam, budaya dan suku-suku terasing. Hampir saban bulan saya terbang dengan Merpati. Mempercepat waktu, di kala transportasi darat dan laut pun sulit.

Puluhan tahun lalu, negeri ini hanya mengenal penerbangan Garuda dan Merpati. Proyeksi keduanya jelas. Garuda diarahkan untuk penerbangan ke luar negeri, sedang Merpati yang akan mengarungi angkasa Nusantara. Itu yang menjadikan Merpati besar dengan rute gemuk.

Andalan Merpati dulu pesawat F-26 hingga F-29. Tapi karena penerbangan ke luar negeri belum padat, untuk sementara Garuda difungsikan untuk melayani duabelas rute subur di dalam negeri. Dan itu tidak mengganggu Merpati yang sudah menjadi raja di luar 12 rute itu.

Hubungan Merpati dan Garuda kala itu juga mesra. Tidak seperti sebelum bubar, yang tidak seperti bersaudara. Kemesraan itu terlihat dari penerbangan saya dari Manado ke Surabaya.

Dari Manado naik Merpati ditransitkan di Makasar. Dan dari kota ini ke Surabaya naik Garuda. Saya sangat bangga karena baru kali itu naik pesawat Airbus 200 yang kala itu paling megah.

Merpati adalah yang babat alas (membuka) jalur-jalur baru, utamanya di Indonesia timur. Merpati yang memulai penerbangan Dili-Darwin dengan kapasitas seat terisi hingga di atas 75%. Itu meningkat dari satu kali penerbangan menjadi dua kali saban hari.

Merpati pula yang merintis penerbangan Jakarta-Singapura sampai dua kali penerbangan. Dan tiap penerbangan perdana itu saya selalu diajak.

Di tengah semaraknya perusahaan ini menimba rezeki, nasib rasanya memang belum berpihak pada Merpati. Maskapai penerbangan swasta, Sempati lahir. Rute basah disusuri, Dili-Darwin dimasuki, juga Jakarta-Singapura. Akibatnya Silk-Air Singapura pun punya kesempatan untuk masuk Indonesia. Itu pangkal penerbangan asing masuk Indonesia. Pangkal rumitnya ‘bisnis udara’ di negeri ini.

Saat pasar bebas dibebaskan ‘sebebas-bebasnya’, Merpati kehilangan pasar. Itu karena armadanya kalah dengan penerbangan swasta, dan dia ditinggal ‘saudaranya’, Garuda.

‘Si Biru’ yang dalam perjanjian awal akan mengarungi penerbangan luar negeri dan ‘menyerahkan’ 12 rute basah ke Merpati ternyata tidak dilakukan. Malah saat diversifikasi usaha tidak menggandeng Merpati, tapi melahirkan Citylink.

Inilah sulitnya punya anak kembar yang tidak mendapat kasih sayang secara adil dari orangtuanya. Garuda dimanjakan sejak awal. Merpati dikuyo-kuyo mulai dari kandungan.

Nah ketika Merpati rugi dan terbelit persoalan, gonta-ganti dirut, ribut dan saling sikut. Kini semua itu tinggal dongeng. Merpati sudah amarahum (almarhum).

Di tengah kondisi maskapai itu sudah tiada, sekarang kembali namanya diutak-atik lagi. Kalau ingin menghidupkan Merpati lagi, dana besar memang harus digelontorkan agar bisa bersaing.

Dan harusnya Merpati memang dihidupkan. Itu karena sejarahnya. Tak layak maskapai yang bersejarah itu dianggap sebagai burung dara, hanya disembelih untuk disantap. Dijadikan tumbal setelah fungsinya sebagai perintis usai, dan dayanya lemah sebagai burung aduan.

Ya, pemerintah perlu bijak memutuskan. Perlu adanya revitalisasi kebijakan. Jika Merpati tidak ‘di-Garuda-kan’ memang sulit di tengah pasar yang sudah mengglobal. Atau bila dimungkinkan perlu regulasi yang bersifat protektif. Toh negara lain juga melakukan itu.

Dengan putusan PN Surabaya ini kita berharap, moga-moga Merpati benar-benar hidup lagi. Djoko Su’ud Sukahar

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index