Misteri Anak Gendruwo (15) : Anak Gendruwo Lahir, Dukun Bayi Ketakutan

Misteri Anak Gendruwo (15) : Anak Gendruwo Lahir, Dukun Bayi Ketakutan

Kamis Kliwon, tahun 1978. Hari itu di daerah Alas Purwo bukan main panasnya. Udara sangat menyengat. Seluruh penduduk yang hidup di daerah ini kegerahan. Cuaca ini agak aneh. Sebab angin bertiup kencang, dan daun-daun di hutan ini berguguran.

Sorenya, angin yang semula menyapu hampir seluruh Alas Purwo itu bergerak cepat ke arah desa dimana Wakijem dan Gimo tinggal. Angin itu telah menimbulkan kengerian. Ada banyak pohon tumbang. Termasuk rumah-rumah penduduk.

Saat itulah Wakijem merasakan perutnya sakit. Wanita ini merasa, bayi yang dikandungnya akan lahir. Gimo, dengan perasaan was-was keluar rumah. Laki-laki ini lari sambil berlindung di pohon-pohon besar. Ia mendatangi rumah dukun bayi yang ada di desa ini.

Dengan wajah menegang ia menggelandang dukun bayi itu ke rumahnya. Dan dengan perasaan berdebar-debar ia menunggu kelahiran jabang bayi yang telah membuatnya bertanya-tanya.

Tepat ketika matahari tenggelam, dan suasana di desa ini mulai kelam, Wakijem melahirkan. Kelahiran itu amat menakutkan. Bukan prosesi kelahirannya. Tetapi lebih pada sosok bayi yang dilahirkan Wakijem. Sampai-sampai, dukun bayi yang menolongnya sempat terhenyak dan akan kabur.

Dukun ini tak menyangka, Wakijem dan Gimo yang berkulit putih itu ternyata melahirkan bayi yang berkulit hitam. Tubuh bayi itu berbulu. Kepalanya lonjong. Di mulutnya terjulur dua lidah. Dan tangis bayi itu terlalu besar dan keras.

Yang lebih mengherankan lagi, ketika bayi ini lahir, suasana di luar rumah yang bergemuruh akibat amukan angin langsung mereda. Angin yang seharian penuh mengobrak-abrik desa ini tiba-tiba berhenti. Dan sampah daun-daunan yang memenuhi jalanan desa hilang entah kemana. Desa dimana Gimo dan Wakijem tinggal menjadi bersih seperti habis disapu oleh kekuatan yang tak bisa diterima akal.

Yang lebih mengejutkan lagi, cuaca di desa ini juga berubah drastis. Sore itu kembali desa ini dicekam udara dingin. Ini persis seperti kejadian ketika Wakijem mulai mengandung.

Saking dinginnya, sampai-sampai dukun bayi yang membantu persalinan Wakijem meminjam sarung Gimo, ketika dukun itu diantar pulang laki-laki ini. (Djoko Suud Sukahar/bersambung)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index