Humaniora

Ini Kemilau Intan Bintang Afrika

Kemewahan dan kemuliaan intan permata, bukan hanya dijadikan hiasan pada tubuh manusia untuk cincin dan anting-anting. Tapi itu juga dijadikan kebesaran sebuah kekuasaan. Ini terjadi di kerajaan Inggri,s dimana intan dijadikan hiasan di tongkat dan Mahkota Raja Inggris. Darimanakah berlian itu didapat?

Seorang penambang Afrika Selatan pada bulan April 1974 telah menemukan berlian terbesar ke-9 di dunia, paling besar yang pernah dijumpai pada pertambangan intan di Kimberley sejak tahun 1896 dengan berat kira-kira 616 karat. Ini merupakan penemuan penting kedua di pertambangan itu, karena pada tahun 1896 juga telah ditemukan berlian dengan berat 513 karat.

Kira-kira pada tahun 1870, anak petani Daniel Jacobs yang menetap di tepi sungai Oranye (Afrika Selatan), tidak jauh dari Hopetowen, pada suatu hari pulang dengan membawa macam-macam batu berwarna.

Di antara batu-batu untuk barang mainan itu Nyonya Yacobs tertarik oleh sebutir batu yang berkilauan luar biasa indahnya. Ia kemudian menunjukkan batu itu pada seorang tetangganya (Belanda) yang bernama Schalk van Niekerk untuk diselidiki lebih lanjut oleh ahli-ahli permata.

Kemudian batu itu pindah dari satu tangan ke tangan lain, akhirnya jatuh ke tangan O’Reilly yang menunjukkan batu itu kepada ahli mineralogie (ilmu barang tambang) Dr Guibon Atherstone di Grahamstown.

Ia segera mengenali batu itu yakni batu intan dari 21 tiga per 16 karat. Lalu intan itu dijual kepada Sir Philip Woodhouse, Gubernur Kaapkolonie seharga f.6000.

Bintang Afrika

Tidak lama kemudian seorang pengembala telah menemukan intan lain yang segera dibeli oleh Niekerk dengan penukaran 500 ekor kambing, 10 ekor lembu dan seekor kuda.

Intan ini dijual lagi pada sebuah firma yang kemudian menjual lagi pada Hertog dari dudley (bangsawan Inggris). Intan tersebut diberi nama “Bintang Afrika Selatan”, beratnya sesudah digodok 47 setengah karat.

Semenjak ditemukan intan-intan ini, maka Afrika Selatan dilanda manusia yang hendak mengadu untung dengan mendulang intan-intan di sepanjang sungai Oranye, akan tetapi hasilnya sia-sia saja. Lalu orang berpaling ke pedalaman, yang dimungkinkan tanahnya mengandung intan yang menjadi rebutan manusia.

Melihat gemuruh pencari intan, akhirnya orang-orang mengusahakan tambang-tambang intan dan berdirilah kongsi-kongsi pencarian intan, yaitu Old De Beersmine, Kimberlemine, Bultfontein, Jagersfontein dan Premiermine.

Meskipun dari tambang-tambang intan di Afrika Selatan dapat digali banyak intan, kebanyakan intan Afrika Selatan tidak dapat dipakai sebagai perhiasan. Menurut Prof Kunz mutu intan Afrika dapat dibagi sebagai berikut: 8 % air pertama, 12 % air kedua, 25 % air ketiga, dan sisanya 55 % jenis yang dapat digunakan untuk dijadikan bubuk intan dan keperluan teknik. iz/jss


[Ikuti SawitPlus.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar