Kolom Djoko Su'ud Sukahar

Jokowi, Sawit dan Gunung Merapi

Jokowi, Sawit dan Gunung Merapi

Gunung Merapi di Jogyakarta mengalami erupsi. Itu selang dua hari setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan replanting kebun sawit rakyat di Rokan Hilir (Rohil) Provinsi Riau (9/5/2018).

Secara kasat mata tak ada hubungan antara Gunung Merapi meletus dengan kesibukan Presiden Jokowi. Berdasar jarak juga tidak berdampak. Namun geliat gunung ini selalu diseret ke ranah politik. Itu dari dulu sampai sekarang.

Memang tidak salah mengkaitkan letusan Gunung Merapi dengan jabatan presiden. Berdasar ilmu titen dan ilmu gathuk, gunung ini selalu memberi sinyal yang menyiratkan itu. Merapi bergolak tanda penguasa sedang oleng, bahkan bisa terjadi suksesi.

Serat Kanda, Babad Tanah Jawi, Tantu Panggelaran maupun Jangka Jayabaya secara eksplisit menyebut soal itu. Dan ini masih diamini serat-serat lain seperti Serat Sabdo Palon dan sebagainya, kendati tidak spesifik bicara tentang pemerintahan Majapahit maupun Mataram.

De Han dan de Graft dalam ‘Mataram’ menyebut, harmonisasi jagad itu mengemuka dengan heroik ketika Mataram (Islam) berjuang memerdekakan diri, berpisah dari kekuasaan Pajang sebagai kerajaan induknya.

Invasi pasukan Pajang disikapi dengan bagi-bagi tugas antara para elit Mataram. Ki Ageng Selo mendaki Gunung Merapi yang mulai menggelegak untuk meminta bantuan. Dan Panembahan Senopati menuju Parangkusuma bertemu dengan Ratu Kidul.

Tatkala pasukan Pajang memasuki  tlatah (area) Kerajaan Mataram, maka Gunung Merapi bergemuruh dengan menyemburkan batu dan kerikil menghalangi pergerakan pasukan Pajang. Sedang dari laut, melalui sungai-sungai yang ada, banjir bandang mengusir prajurit Pajang.

Serat memang bukan bukti sejarah. Kendati serat dan babad ditulis berdasar fakta yang ada. Penulisannya yang liris dan dramatis acap jauh dengan realitas yang ada, bahkan terlalu imajinatif ketimbang peristiwa yang terjadi.

Itu sebabnya, CC Berg sejarawan yang menulis tentang sejarah Jawa itu dengan tegas mengatakan, bahwa sejarah Jawa itu bukan sejarah, tetapi sastra puja. Tulisan hasil para pujangga istana untuk memuji raja agar punya kekuatan metafisis.

Metafisis atau mistis ini memang kental dengan budaya Jawa. Dalam banyak gerakan sosial dan politik menyiratkan itu. Bukan hanya di masa kerajaan, tetapi juga di era pergerakan, kemerdekaan, sampai di zaman digital ini.

Harmonisasi jagad yang secara harfiah dikenal dengan ‘Kerajaan Api’, ‘Kerajaan Air’ yang bersanding dengan ‘kerajaan manusia’ melalui berbagai tafsir masih eksis hingga kini. Dan itu yang menstimulasi, tiap batuk Gunung Merapi adalah pratanda jagad manusia akan berubah. Benarkah tahun depan akan terjadi suksesi?

Kendati geliat Gunung Merapi selalu menyiratkan itu, tetapi untuk erupsi kali ini saya tidak percaya itu bakalan terjadi. Alasan pertama adalah tidak adanya getaran hati. Alasan kedua serat-serat kuno tidak mengenali adanya erupsi serta-merta yang mengarah pada pergantian pucuk pimpinan sebuabh negara, dan yang ketiga, erupsi kali ini bukanlah magma.

"Letusan berlangsung tiba-tiba. Jenis letusan adalah letusan freatik yang terjadi akibat dorongan tekanan uap air yang terjadi akibat kontak massa air dengan panas di bawah kawah Gunung Merapi," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Jumat (11/5). 

Jenis letusan gunung berapi itu dibagi tiga kategori. Pertama adalah  erupsi magma, kedua freatomagma, dan yang ketiga adalah freatik. Benarkah tidak ada yang berubah? Kita tunggu sama-sama tahun depan. Djoko Su’udSukahar

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index