Politik

Jenderal Daendels Ditaklukkan Keris Nagasasra

Di daerah Sumedang pembuatan jalan Anyer-Panarukan mengalami kendala. Itu karena harus membobol gunung batu cadas yang keras dengan jurang yang terjal. Namun Daendels tetap memaksakan kehendak. Bahkan ia menetapkan waktu secepatnya agar diselesaikan. Padahal peralatan yang dipergunakan rakyat amat sederhana. Hanya linggis, pahat dan singkup. Sudah bisa dipastikan, pekerjaan tak akan selesai tepat waktu. Akibatnya, Daendels yang terkenal keras dan bengis itu murka. Ia berniat memeriksa sendiri pekerjaan yang belum selesai di wilayah bukit cadas itu. Mendengar kabar ini, terbayang di benak rakyat apa yang bakal terjadi. Siksaan dan hukuman pasti akan mereka terima sebagai imbalan. Mereka pun dilanda ketakutan. Pangeran Koesoemahdinata, atau Pangeran Kornel (sebutan rakyat Sumedang karena ia mendapat pangkat militer Kolonel dari Kerajaan Belanda), merasakan ketakutan rakyatnya. Secara ksatria, ia akan menghadapi Jenderal Belanda yang terkenal bengis itu. Pangeran juga siap mempertanggung-jawabkan pekerjaan rakyatnya yang tidak selesai. Hukuman apapun yang bakal ditimpakan pada rakyatnya, dia yang akan menanggung. Pada hari kedatangan di Cadas Pangeran, Jenderal Daendels didampingi para pengawal bersenjata. Dengan wajah geram Jenderal Daendels siap menumpahkan amarah dan menghukum rakyat yang dinilainya tidak becus bekerja. Pangeran Kornel melihat kedatangan Daendels. Dengan tenang dan ksatria, ia menghadapinya. Saat pertemuan itulah terjadi suatu keajaiban. Setelah berhadapan dengan Pangeran Kornel, tiba-tiba Jenderal Daendels tidak memperlihatkan amarahnya. Hatinya luluh menatap kewibawan Pangeran Kornel. Bahkan Daendels menyodorkan tangannya mengajak berjabat tangan. Dengan gagah berani, Pangeran Kornel menyambutnya. Tapi itu sambutannya dilakukan dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya memegang gagang keris Nagasasra yang terselip di pinggang sebelah kirinya. "Keris Nagasasa inilah pusaka yang membuat Pangeran Kornel berwibawa dan disegani," kata Rd Kusdinar A. Sumawilaga, cucu Pangeran Kornel. Lalu dengan suara tenang dan penuh wibawa, Pangeran Kornel menyapa Jenderal Daendels. Pangeran Kornel menerangkan pekerjaan jalan yang belum diselesaikan rakyat. Bahkan pangeran meminta pasukan Belanda yang punya alat canggih membantu rakyat menyelesaikan pembuatan jalan. Jenderal Daendels pun tertegun sesaat. Lantas, ia menyatakan bersedia membantu rakyat Sumedang dengan mengerahkan pasukan zeni tempurnya. Akhirnya jalan Cadas Pangeran selesai tanggal 12 Maret 1812 dalam waktu 3,5 bulan.  eko/jss


[Ikuti SawitPlus.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar