Industri

Gokil, Harga CPO Tak Terbendung, Tembus RM 3.472/Ton

JAKARTA - Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kembali meroket di pekan ini hingga ke level tertinggi dalam 8,5 tahun terakhir. Sementara itu, pemerintah mengubah tarif pungutan ekspor CPO di bulan Desember.

Melansir data Refinitiv, harga CPO di Bursa Derivatif Malaysia di pekan ini melesat nyaris 3% ke 3.472 ringgit per ton atau sekitar US$ 855/ton. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Mei 2012.

Pemerintah kini menyesuaikan tarif pungutan CPO berdasarkan batasan lapisan nilai harga yang mengacu pada harga referensi yang ditetapkan Menteri Perdagangan.

Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan No.191/PMK.05/2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan No.57/PMK.05/2020 tentang Tarif Layanan Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Pada Kementerian Keuangan.

Peraturan tersebut berlaku mulai 10 Desember mendatang. Dalam peraturan baru ini, tarif pungutan ekspor CPO minimal sebesar US$ 55 per ton dan paling tinggi US$ 255 per ton.

Tarif pungutan US$ 55 per ton dengan asumsi harga CPO berada di bawah atau sama dengan US$ 670 per ton. Setiap harga CPO naik US$ 25, maka pungutan naik US$ 5 per ton. Bila harga CPO di atas US$ 995 per ton, maka tarif pungutan ekspor mencapai US$ 255 per ton.

Kenaikan CPO di pekan ini akibat supply yang diprediksi semakin ketat. Hasil survei Reuters menunjukkan stok CPO Malaysia bulan November kemungkinan akan turun 2% dari bulan sebelumnya menjadi 1,54 juta ton, dengan tingkat produksi turun 10% ke 1,55 juta ton, menjadi yang terendah dalam 8 bulan terakhir.

Sementara itu, Dorab Mistry, analis papan atas CPO memperkirakan produksi minyak sawit Malaysia pada tahun 2020 kemungkinan akan mencapai 19,2 juta ton, dengan stok Desember turun ke level 1,4 juta ton.

Selain itu, India pada pekan lalu sebagai konsumen terbesar minyak sawit global memutuskan untuk memangkas bea masuk sebesar 10 poin persentase dari 37,5% menjadi 27,5%. Pemerintah India dikabarkan mencemaskan harga minyak nabati lokal yang terlalu tinggi.

Sumber di pasar memperkirakan bahwa impor minyak sawit ke India pada bulan Desember dapat meningkat menjadi sekitar 700.000-730.000 metrik ton, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 550.000-600.000 metrik ton.

Sementara itu Sudhakar Desai, Presiden Indian Vegetable Oil Producers Association (VPA), memperkirakan permintaan CPO di negaranya bisa melonjak hingga 100.000 ton per bulan dengan kebijakan tersebut. Sebab, impor CPO akan lebih murah ketimbang produk pesaingnya.

"Pemangkasan ini membuat CPO lebih kompetitif. Kami cukup membayar bea masuk 7,5% lebih murah dibandingkan impor minyak kedelai atau biji bunga matahari," kata Desai, sebagaimana diwartakan Reuters. Sebagai informasi, tarif bea masuk untuk minyak kedelai dan biji bunga matahari di India adalah 35%. *


[Ikuti SawitPlus.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar