Politik

Naik Turun Harga Sawit Pengaruhi Ekonomi Riau

Riau merupakan provinsi dengan PDRB terbesar ke-5 di Indonesia atau paling besar di Pulau Sumatera. Dan dari data yang ada, ternyata lahan petani swadaya lebih besar ketimbang yang dipunyai korporasi. Berdasarkan berita resmi statistik BPS Riau  (No. 26/05/14/Th.XVI, 5 Mei 2015) pertumbuhan ekonomi Riau triwulan 1-2015 mengalami kontraksi 0,18 persen melambat dibanding triwulan 1-2014. Itu diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Atas dasar harga berlaku triwulan I-2015 mencapai Rp 156,27 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 yang mencapai Rp 107,38 triliun. Dari sisi produksi, kontraksi tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar minus 9,02 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran lebih disebabkan terkontraksinya ekspor luar negeri (minus 32,70 persen). Dengan begitu, secara spasial, pertumbuhan ekonomi tertinggi triwulan I tahun 2015 (y on y) Pulau Sumatera dicapai Provinsi Kepulauan Riau sebesar 7,14 persen. Kemudian dari berita resmi No. (24/05/14/Th. XVII, 4 Mei 2016),  pertumbuhan ekonomi Riau triwulan 1/2016 tumbuh 2,34 persen membaik dibanding triwulan I/2015, yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Atas dasar harga berlaku triwulan I/2016 mencapai Rp 162,19 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp110,20 triliun. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 19,55 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Akhir Rumah Tangga yang tumbuh 6,41 persen. Pertumbuhan ini disebabkan oleh faktor musiman pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang terkontraksi 6,17 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran lebih disebabkan terkontraksinya kinerja investasi (minus 3,93 persen) dan Ekspor Barang dan Jasa ke Luar Negeri (minus 14,50 persen). Secara spasial pada triwulan I/2016, Provinsi Riau berkontribusi sebesar 5,39 persen. Provinsi Riau merupakan provinsi dengan PDRB terbesar ke-5 di Indonesia atau PDRB terbesar di Pulau Sumatera. Kemudian dari berita resmi statistic (No. 054/11/14/Th.XVII, 7 November 2016) pertumbuhan ekonomi Riau triwulan 3/2016 tumbuh 1,11 persen lebih baik dibanding triwulan III/2015. Yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)  Atas dasar harga berlaku triwulan III/2016 mencapai Rp 172,82 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 116,01 triliun. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 16,60 persen. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh 5,12 persen. Pertumbuhan ini disebabkan oleh faktor musiman pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang tumbuh 4,80 persen. Sedangkan dari sisi Pengeluaran lebih disebabkan membaiknya Ekspor ke Luar Negeri (8,32 persen), Pembentukan Modal Tetap Bruto (3,63 persen) dan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (1,76 persen). Maka dari 3 informasi ini jika Ekonomi Riau triwulan I s/d III/2016 terhadap triwulan I s/d III/2015 tumbuh sebesar 1,96 persen (c-to-c). Dari sisi produksi, pertumbuhan ini didukung oleh pertumbuhan pada Industri Pengolahan (4,61 persen) dan Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (3,52 persen). Sedangkan dari sisi Pengeluaran lebih disebabkan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (5,77 persen) dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (3,16 persen) dan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (0,16 persen). Di depan wartawan awal tahun, 26 Januari 2017 lalu, Aden Gultom Kepala BPS Propinsi Riau masih menyebutkan kalau pertumbuhan ekonomi di Riau secara khusus masih baik. “Grafik pertumbuhan ekonomi Riau di tahun 2016 meningkat. Dan diakui penurunan berasal dari komoditas sumber daya alam. Sekarang sudah membaik walau belum signifikan. Harapannya pertumbuhan ekonomi Riau di 2017 lebih baik. Termasuk besaran PDRB,” katanya penuh semangat. Jika ditarik dari simpulan ini, memang sawit sebagai komoditi di Riau masih memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi di Riau. Hanya saja komoditi sawit harus dihadapkan pada ketersediaan lahan jika terjadi penambahan alih-fungsi lahan. Sementara sejak era otonomi daerah bergulir di Indonesia dan Riau, pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan, hingga RPJMP 2014 hingga 2019. Tentu saja hal ini akan memberikan pe-er besar pemangku stake holder untuk membuat tata batas antara mana lahan perkebunan sawit khususnya dengan hutan alam. Namun sawit, bagaimana pun kini masih mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Riau. “Kalaupun bukan acuan, tapi perkebunan sawit bila dilihat dari perkembangannya, maka ikut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Riau. Jadi tetap berpengaruh,” kata Kepala Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam Bappeda Riau Ir H. Hardison, MP, ketika redaksi Sawit Plus.com mewawancarai via phone Kamis pagi  27 April 2017. Terkait dengan prosentase petani sawit swadaya di Riau justru kini sudah lebih besar dari korporasi. “Petani swadaya kita sudah mencapai angka 52 %. Sementara korporasi memiliki angka 48%. Artinya potensi pertumbuhan masyarakat lokal masih punya peluang besar,” tambah Hardi. Sedang soal perkembangan sawit yang harus disiasati karena ketersediaan lahan mineral, maka Hardi menyebut untuk konfirmasi dengan SKPD terkait. “Kalau itu silahkan menghubungi dinas kehutanan, karena mereka yang lebih tahu”, jawab Hardi singkat. mjp


[Ikuti SawitPlus.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar