Astra Agro Bawa Konservasi Mangrove Berbasis Masyarakat di Forum Internasional ICFAES 2026

Astra Agro Bawa Konservasi Mangrove Berbasis Masyarakat di Forum Internasional ICFAES 2026

BANDA ACEH – Perubahan iklim menempatkan ekosistem perairan dan pesisir pada tekanan yang semakin besar. Penguatan ketahanan ekosistem membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berbasis ilmu pengetahuan, tetapi juga melibatkan masyarakat yang hidup dan menggantungkan penghidupan di sekitarnya.

Perspektif tersebut menjadi salah satu perhatian dalam _The 8th International Conference on Fisheries, Aquatic and Environmental Sciences (ICFAES) 2026_ yang diselenggarakan Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP), Selasa (15/9/2026), di AAC Prof. Dr. Dayan Dawood, USK, Banda Aceh.

Konferensi bertema _“Resilient Aquatic Ecosystems in the Era of Climate Change”_ ini mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan untuk membahas tantangan dan solusi bagi keberlanjutan ekosistem perairan dan pesisir.

ICFAES 2026 menerima 97 abstrak untuk presentasi oral dan poster dari 66 institusi yang terdiri atas perguruan tinggi, lembaga penelitian nasional, organisasi nonpemerintah, dan mitra industri. Peserta dan kontributor berasal dari 12 negara, yakni Indonesia, Inggris, Italia, Belgia, Thailand, Filipina, Bangladesh, Malaysia, Nigeria, India, Jepang, dan Pakistan.

Chairperson ICFAES 2026, Dr. Syahrul Purnawan, S.Pi., M.Si., mengatakan konferensi menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi dalam ilmu pengetahuan, konservasi, dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.

_“This theme reflects our shared commitment to addressing the growing challenges facing aquatic ecosystems and to strengthening collaboration in science, conservation, and sustainable resource management,”_ ujar Syahrul saat membuka ICFAES 2026.

Salah satu perspektif dalam forum tersebut datang dari dunia usaha. Conservation Management & Nature-based Solutions Manager PT Astra Agro Lestari Tbk, Adlan Yusran, turut menjadi invited speaker dengan memaparkan pengalaman dan hasil kajian mengenai konservasi mangrove berbasis masyarakat yang dikembangkan Astra Agro di beberapa wilayah pesisir Indonesia.

Kehadiran Astra Agro Lestari dalam kegiatan ICFAES menjadi wujud nyata kerja sama perguruan tinggi dan korporasi yang mendukung perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus upaya pelestarian lingkungan.

Adlan membawakan kajian berjudul _“Strengthening Community-Based Mangrove Conservation and Ecosystem Service Efforts”_, yang menyoroti manfaat rehabilitasi mangrove bagi pemulihan ekosistem dan keanekaragaman hayati, perlindungan kawasan pesisir, serta penguatan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Salah satu pengalaman yang dipaparkan berasal dari Kabupaten Aceh Singkil melalui program konservasi mangrove berbasis masyarakat di Desa Kilangan. Program ini dikembangkan bersama Kelompok Tani Hutan Payau Teluk Bayu (KT HPTB) dengan pendampingan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Singkil.

*Memulihkan Ekosistem dan Penguatan Peran Masyarakat*

Kawasan pesisir Aceh Singkil mengalami perubahan ekologis signifikan setelah gempa Nias pada 2005, termasuk penurunan muka tanah sekitar 1–1,5 meter dan perubahan hidrologi pada habitat intertidal. Kondisi tersebut turut meningkatkan kerentanan kawasan terhadap kenaikan muka air laut dan perubahan garis pantai.

Astra Agro bersama KT HPTB dan DLH Kabupaten Aceh Singkil kemudian menjadi bagian dari upaya rehabilitasi melalui program yang dimulai di Desa Kilangan pada 2018.

Hingga 2026, lebih dari 54.000 pohon mangrove telah ditanam pada area sekitar 18 hektare. Program dilaksanakan bertahap bersama masyarakat, dengan KT HPTB sebagai mitra utama di tingkat tapak. Selain rehabilitasi, kegiatan mencakup pengelolaan biodiversitas, pemberdayaan masyarakat, dan penelitian kolaboratif.

“Ketahanan ekosistem tidak dapat dipisahkan dari ketahanan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Karena itu, pendekatan konservasi perlu memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat sekaligus memperoleh manfaat nyata dari ekosistem yang mereka jaga,” ujar Adlan.

Keterlibatan masyarakat juga diterapkan dalam pemantauan biodiversitas. Setelah mendapatkan pelatihan, anggota KT HPTB dilibatkan secara bertahap untuk memantau keanekaragaman hayati agar semakin mandiri dalam menjaga kawasan dan mengukur dampak rehabilitasi.

Pemantauan terbaru mencatat 32 spesies burung dari 20 famili, termasuk Lesser Adjutant atau bangau tongtong (_Leptoptilos javanicus_), Beach Thick-knee (_Esacus magnirostris_), dan Changeable Hawk-Eagle (_Nisaetus cirrhatus_). Warga juga melaporkan keberadaan buaya muara (_Crocodylus porosus_) di kawasan rehabilitasi.

Manfaat rehabilitasi mangrove juga terlihat pada aspek sosial dan ekonomi. Masyarakat Desa Kilangan memanfaatkan sumber daya perairan di sekitar kawasan, terutama ikan, kepiting, kerang nipah atau lokan, serta siput hitam.

Berdasarkan rapid assessment terhadap 21 orang, nilai ekonomi kotor pemanfaatan sumber daya tersebut diperkirakan mencapai Rp1,284 miliar per tahun, dengan nilai bersih sekitar Rp1,065 miliar. Kepiting memberikan kontribusi nilai bersih terbesar, sekitar Rp736,92 juta, disusul ikan Rp289,99 juta, kerang nipah Rp21,6 juta, dan siput hitam Rp16,8 juta per tahun.

Data tersebut menunjukkan bahwa ekosistem mangrove tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menjadi bagian dari sumber penghidupan masyarakat.

Karena itu, program diarahkan agar masyarakat memperoleh nilai tambah melalui pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan. Inisiatif yang disiapkan mencakup optimalisasi usaha mikro dan produk turunan lokan, penguatan kelembagaan kelompok, serta pengembangan budidaya kepiting dengan pendekatan silvofishery dan sistem keramba apung.

“Nature-based solutions bukan hanya tentang memulihkan tutupan vegetasi. Yang tidak kalah penting adalah memastikan ekosistem yang dipulihkan memberikan manfaat dan memiliki nilai bagi masyarakat di sekitarnya,” kata Adlan.

Manfaat mangrove juga berkaitan dengan mobilitas masyarakat. Jalan penghubung Desa Kilangan di Kecamatan Singkil dan Desa Kayu Menang di Kecamatan Kuala Baru yang dibangun Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil secara bertahap pada 2009–2022 telah mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap jalur sungai.

Ruas jalan tersebut rata-rata dilalui sekitar 359 kendaraan atau 618 orang setiap hari. Sementara itu, vegetasi mangrove berfungsi sebagai penghalang alami yang membantu melindungi garis pantai dari erosi, gelombang, dan dampak bencana pesisir. Pemantauan kawasan mangrove karena itu penting untuk menjaga fungsi ekosistem sekaligus melindungi konektivitas masyarakat.

Menurut Adlan, pengalaman di Aceh Singkil menunjukkan bahwa konservasi mangrove membutuhkan pendekatan terintegrasi. Pemulihan ekosistem perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kelembagaan lokal, pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan, serta pemantauan berkala.

“Ketika masyarakat memiliki kapasitas dan ruang untuk menjadi bagian dari proses konservasi, keberlanjutan program tidak lagi hanya bergantung pada intervensi dari luar. Masyarakat dapat tumbuh menjadi bagian dari penjaga ekosistem di tingkat tapak,” ujarnya.

Sejalan dengan semangat “Sinergi Bumi dan Manusia untuk Satu Indonesia,” pengalaman di Aceh Singkil menunjukkan bahwa menjaga alam dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan ketika konservasi dibangun melalui ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan keterlibatan masyarakat. Mangrove, pada akhirnya menjadi benteng alami bagi pesisir, habitat bagi beragam kehidupan, sekaligus bagian dari ruang hidup dan penghidupan masyarakat.(*)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index