Ekonomi

Rupiah Lesu ke Rp14.125

Ilustrasi rupiah dan dolar AS. (Int)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah melemah ke posisi Rp14.125 per dolar AS atau sebesar 0,12 persen pada perdagangan pasar spot Senin (2/12/2019) sore. Sebelumnya, kurs mata uang garuda berada di posisi Rp14.108 per dolar AS pada perdagangan akhir pekan, Jumat (29/1/20191).

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.122 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi Jumat (29/11/2019), yakni Rp14.102 per dolar AS.

Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah terhadap dolar AS. Tercatat peso Filipina melemah 0,46 persen, baht Thailand 0,23 persen, dan yen Jepang melemah 0,17 persen, serta rupee India sebesar 0,04 persen.

Selanjutnya, yuan China juga terpantau melemah sebesar 0,16 persen. Diikuti, won Korea 0,14 persen, serta dolar Singapura dan ringgit Malaysia yang sama-sama melemah 0,08 persen terhadap dolar AS. Sementara, penguatan hanya terjadi pada Lira Turki sebesar 0,07 persen, dan dolar Taiwan menguat tipis 0,01 persen terhadap dolar AS.

Di negara maju, mayoritas nilai tukar bergerak secara bervariasi terhadap dolar AS. Terpantau poundsterling Inggris dan euro sama-sama melemah dengan masing-masing nilai sebesar 0,14 persen dan 0,01 persen, sementara dolar Australia dan dolar Kanada menguat dengan masing-masing nilai sebesar 0,26 dan 0,01 persen terhadap dolar AS.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah terjadi karena sentimen meredupnya potensi kesepakatan dagang antara AS dan China.
Pasalnya, Presiden AS Donald Trump telah menyetujui dua UU yang mendukung para pemrotes anti-pemerintah Hong Kong. Kebijakan ini diyakini makin menjauhkan kata sepakat dari perang dagang AS-China.

"RUU ini lebih simbolis dan memiliki implikasi praktis yang terbatas. Tapi China telah berjanji untuk mengambil tindakan keras sebagai pembalasan, meskipun belum mengumumkan tindakan spesifik apa pun," kata Ibrahim, Senin (2/12/2019).

Pembicaraan perdagangan AS-China masih menjadi fokus pasar. Apalagi, setelah tabloid di China mengabarkan bahwa setiap perjanjian perdagangan fase satu mengharuskan AS menurunkan tarif perdagangan yang sangat kecil kemungkinannya.

Sementara itu, gelombang tarif AS berikutnya untuk barang-barang China akan mulai berlaku pada 15 Desember.

Dari sisi domestik, Ibrahim mengatakan data inflasi Indonesia yang masih stabil di kisaran 3 persen sempat mendukung penguatan tipis rupiah hari ini.

"Namun, sayangnya data tersebut tidak mengurangi kekhwatiran pasar soal negosiasi dagang, sehingga rupiah tetap melemah," tutur Ibrahim.

Lebih lanjut ia berpendapat dalam perdagangan Selasa (3/12) besok posisi rupiah akan berada di kisaran Rp14.010 hingga Rp14.150 per dolar AS. (*)


[Ikuti SawitPlus.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar