El Nino Dan Badai Tekanan Sawit 2027 Ancam Petani

El Nino Dan Badai Tekanan Sawit 2027 Ancam Petani

PETALING JAYA — Ancaman El Nino mulai membayangi produksi kelapa sawit di Malaysia dan Indonesia. Dampak kekeringan diperkirakan tidak langsung terlihat pada produksi tandan buah segar (TBS), tetapi dapat muncul beberapa bulan kemudian dan berlanjut hingga 2028.Flora & Fauna

Kondisi ini menjadi perhatian karena kelapa sawit memiliki respons biologis yang tertunda terhadap perubahan cuaca. Kekeringan yang terjadi pada 2026 dapat mengganggu pembentukan bunga dan perkembangan tandan yang baru dipanen pada periode berikutnya.

Veteran industri sawit Joseph Tek Choon Yee mengatakan dampak El Nino terhadap tanaman kelapa sawit tidak terjadi seketika.

“Kelapa sawit tidak bereaksi terhadap kekeringan dalam semalam. Pohon sudah membentuk tandan yang baru akan dipanen beberapa bulan kemudian. Jadi, ketika cuaca menjadi sangat kering hari ini, sebagian dampaknya baru terlihat dalam angka produksi beberapa bulan mendatang,” kata Tek seperti dikutip StarBiz.

Menurut dia, tekanan air yang parah dapat menimbulkan dampak lebih awal. Namun, pengaruh yang lebih besar biasanya muncul setelah kekeringan berlangsung lebih lama, terutama melalui gangguan terhadap pembentukan bunga, jumlah bunga betina yang berkembang menjadi buah, serta perkembangan tandan.Ekonomi

“Secara sederhana, El Nino bisa berakhir sebelum pohon kelapa sawit selesai merasakan dampaknya,” ujarnya.

Jika kondisi kering berlanjut hingga awal 2027, Tek memperkirakan tekanan terhadap produksi TBS dan CPO akan semakin terlihat sepanjang 2027. Bahkan, dampaknya tidak harus berhenti pada tahun tersebut.

“Namun, kita tidak boleh menganggap ceritanya berhenti di sana. Sebagian dampak biologis dapat muncul jauh lebih lambat, sehingga masih ada kemungkinan efek lanjutan hingga 2028,” kata dia.

Chief investment officer Tradeview Capital Sdn Bhd Nixon Wong mengatakan saham perusahaan perkebunan hulu memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan harga CPO.

“Perusahaan hulu murni biasanya mengalami re-rating lebih dahulu karena investor membeli eksposur terhadap operating leverage,” kata Wong.

Menurut dia, periode penguatan kinerja dapat terjadi sebelum penurunan produksi terlihat dalam data. Investor biasanya mulai mengambil posisi berdasarkan ekspektasi pasokan yang akan mengetat. Namun, kenaikan selanjutnya akan bergantung pada realisasi produksi masing-masing perusahaan.

“Kami menilai harga saham saat ini sudah memperhitungkan ekspektasi biodiesel dan El Nino. Karena itu, kenaikan berikutnya akan bergantung pada kerugian produksi aktual dari masing-masing perusahaan,” ujarnya.Flora & Fauna

MBSB Research menyebut perusahaan perkebunan yang berfokus pada sektor hulu memiliki eksposur lebih langsung terhadap kenaikan harga CPO. Ta Ann Holdings Bhd dan Sarawak Plantation Bhd termasuk nama yang disebut lembaga riset tersebut.

Perkembangan El Nino dalam beberapa bulan ke depan karena itu akan menjadi salah satu indikator penting bagi pasar sawit. Bukan hanya harga CPO yang perlu diperhatikan, tetapi juga curah hujan, hasil TBS, pembentukan bunga, perkembangan tandan, dan produksi CPO.

Jika pola kekeringan berlanjut, dampak El Nino yang terjadi sekarang berpotensi baru sepenuhnya terlihat pada produksi 2027 dan meninggalkan efek lanjutan hingga 2028.

Hotspot Indonesia melonjak

Sinyal meningkatnya risiko kekeringan terlihat dari jumlah titik panas di kawasan Asia Tenggara.

MBSB Research mencatat ASEAN Specialised Meteorological Centre merekam 15.186 titik panas di Indonesia sepanjang Agustus 2026. Sebanyak 13.260 titik atau 87,3 persen berada di Kalimantan. Malaysia pada periode yang sama mencatat 265 titik panas.

MBSB Research menilai lonjakan titik panas tersebut memperkuat indikasi memburuknya kondisi kering menjelang potensi El Nino yang sangat kuat. “Jika kondisi kering terus berlanjut, hasil TBS yang lebih rendah dapat mengetatkan pasokan minyak sawit dan mendukung harga CPO,” kata lembaga riset tersebut.Margarin & Minyak Goreng

Siklus El Nino diperkirakan menguat pada Oktober hingga Desember 2026. Puncaknya paling mungkin terjadi antara November 2026 dan Januari 2027. Namun, dampaknya terhadap produksi sawit Malaysia belum terlihat secara menyeluruh.

Data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan rata-rata hasil TBS perkebunan Malaysia mencapai 10,83 ton per hektare pada delapan bulan pertama 2026. Angka itu turun 1,5 persen dibandingkan 11 ton per hektare pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan terjadi terutama di Semenanjung Malaysia yang mencapai 7,8 persen menjadi 11,29 ton per hektare. Sementara Sabah dan Sarawak justru mencatat kenaikan 5,8 persen menjadi 10,48 ton per hektare.

“Panen saat ini belum menunjukkan kontraksi produksi akibat cuaca di seluruh Malaysia,” kata MBSB Research.Flora & Fauna

Meski demikian, lembaga tersebut memperingatkan defisit hujan saat ini dapat memengaruhi produksi tandan pada periode berikutnya.

“Tekanan kelembapan yang berkelanjutan dapat memengaruhi produksi tandan berikutnya, mengubah defisit curah hujan saat ini menjadi hasil yang lebih rendah dan pasokan CPO yang lebih ketat pada 2027,” ujarnya.

Dampak produksi belum bisa dihitungEkonomi

Chief executive officer Malaysian Palm Oil Association (MPOA) Roslin Azmy Hassan mengatakan besarnya dampak El Nino masih bergantung pada durasi dan tingkat keparahan kekeringan.

Defisit hujan berkepanjangan dapat memengaruhi hasil TBS, perkembangan tandan, dan bobot tandan. Dampaknya berpotensi semakin jelas beberapa bulan setelah periode kering berlangsung.

“Untuk saat ini, kami menilai masih terlalu dini untuk menetapkan angka potensi kehilangan produksi,” kata Roslin.

Menurut dia, beberapa bulan ke depan menjadi periode penting untuk mengamati pola curah hujan dan tren hasil TBS menuju 2027.

“Dampak langsungnya saat ini masih dapat dikelola. Namun, semakin lama kondisi kering berlangsung, semakin besar risiko terhadap hasil TBS dan produksi CPO. Pada akhirnya, hal itu dapat memberikan dukungan yang lebih kuat terhadap harga CPO,” ujarnya.Pertanian dan Kehutanan

MPOB masih mempertahankan proyeksi produksi CPO Malaysia 2026 pada kisaran 19,5 juta-19,8 juta ton. Proyeksi itu berada di bawah produksi 2025 yang mencapai rekor 20,28 juta ton.

Kabut asap hingga gangguan penyerbukan

El Nino juga membawa risiko lain bagi perkebunan sawit, yakni kabut asap. Tek mengatakan kabut asap berkepanjangan dapat mengurangi paparan sinar matahari yang dibutuhkan tanaman. Kondisi tersebut berpotensi menjadi tekanan tambahan bagi tanaman sawit.

Risiko lainnya berkaitan dengan proses penyerbukan. Kelapa sawit sangat bergantung pada kumbang penyerbuk Elaeidobius kamerunicus. Kabut asap yang parah berpotensi mengganggu aktivitas dan pergerakan kumbang tersebut dalam menemukan bunga.

Dampaknya belum terukur secara memadai di lapangan. Namun, apabila penyerbukan terganggu, pembentukan buah dapat menurun dan pada akhirnya memengaruhi produksi tandan serta minyak sawit.Flora & Fauna

“Tidak semua perkebunan akan terdampak sama. Banyak hal bergantung pada berapa lama kekeringan berlangsung, tingkat keparahannya, kondisi tanah, umur tanaman, curah hujan setempat, dan pengelolaan kebun,” kata Tek. “Langit mungkin kembali biru sebelum angka produksi berubah menjadi merah.”

Harga CPO sudah naik

Ancaman terhadap produksi muncul ketika harga CPO telah menguat cukup signifikan sepanjang 2026. Kontrak berjangka CPO aktif terakhir berada di sekitar RM4.780 per ton, naik hampir 19 persen secara year-to-date (YTD). Harga sempat mencapai RM5.158 per ton pada 8 September 2026.

Harga spot CPO Malaysia-Indonesia berdasarkan Bloomberg berada di sekitar RM4.862,86 per ton, naik sekitar 15,8 persen YTD. Tek menilai kombinasi produksi yang melemah dan permintaan yang tetap kuat dapat memperketat pasar minyak sawit apabila El Nino berlanjut hingga awal 2027.Ekonomi

“Saya tetap secara umum bullish terhadap harga CPO jika El Nino berlanjut, produksi mulai melemah, dan permintaan tetap kuat,” katanya.

Namun, dia tidak menetapkan target harga tertentu karena pergerakan CPO juga dipengaruhi program biodiesel Indonesia, pasokan minyak nabati global, harga minyak mentah, persediaan, nilai tukar, serta permintaan negara konsumen utama.

Program biodiesel Indonesia menjadi salah satu faktor yang berpotensi memperketat pasokan. Peningkatan konsumsi domestik dapat mengurangi volume minyak sawit yang tersedia untuk ekspor.

“Jika hal tersebut terjadi bersamaan dengan El Nino yang mulai menurunkan produksi, pasar dapat menjadi ketat dengan sangat cepat,” kata Tek.

Dia juga mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak mentah dapat memperbaiki keekonomian biodiesel sekaligus menopang harga minyak nabati. Namun, harga minyak yang lebih tinggi juga dapat meningkatkan biaya pupuk, transportasi, dan operasional perkebunan.Margarin & Minyak Goreng

“Saya tidak akan mengatakan bahwa CPO pasti mencapai RM5.000, RM6.000 atau angka ajaib lainnya,” ujarnya. “Untuk saat ini, lebih banyak faktor yang tampaknya mengarah ke kenaikan daripada penurunan harga.”

Bagi perusahaan perkebunan, Tek mengatakan kenaikan harga CPO pada akhirnya harus tercermin dalam margin. “Harga mungkin menjadi berita utama, tetapi margin pada akhirnya yang menentukan hasil akhirnya,” ujarnya. *

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index