Perkuat Kerja Sama Industri Minyak Nabati Indonesia-Rusia

GAPKI dan Fat and Oil Union of Russia Tandatangani MoU

GAPKI dan Fat and Oil Union of Russia Tandatangani MoU

Cakupan Nota Kesepahaman (MoU) antara kedua asosiasi ini meliputi berbagai aspek kerja sama strategis, antara lain memfasilitasi dialog industri dan pertukaran pengetahuan antara industri minyak nabati Rusia dan Indonesia, berbagi informasi terkini mengenai perkembangan industri, serta membentuk kelompok kerja bersama terkait isu-isu strategis.

Selain itu, kerja sama ini juga mencakup penyelenggaraan seminar dan kegiatan promosi investasi guna mendorong pengembangan teknologi dan inovasi, memperkuat kolaborasi dalam advokasi kebijakan dan pengembangan pasar, serta memperluas jejaring bisnis untuk meningkatkan hubungan perdagangan bilateral di sektor minyak nabati.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengatakan bahwa kesepakatan ini menjadi fondasi penting bagi peningkatan hubungan kelembagaan sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara pelaku industri kedua negara.

“Melalui MoU ini, GAPKI dan The Fat and Oil Union of Russia berkomitmen membangun komunikasi yang lebih intensif, memperkuat pertukaran informasi, serta mendorong lahirnya berbagai inisiatif kerja sama yang saling menguntungkan bagi Indonesia maupun Rusia. Kami berharap kerja sama ini dapat meningkatkan perdagangan, investasi, dan inovasi yang mendukung pembangunan industri yang berkelanjutan," ujar Eddy Martono.

 Rusia merupakan salah satu pasar strategis bagi ekspor minyak sawit Indonesia, meski volumenya masih berada di bawah pasar utama seperti China, India, dan Pakistan. Berdasarkan data GAPKI, ekspor produk sawit Indonesia ke Rusia didominasi oleh Refined Palm Oil (RBD Palm Oil), Refined Palm Kernel Oil (RBD PKO), dan oleokimia.

 Pada tahun 2025, ekspor Refined Palm Oil mencapai 689 ribu ton dengan nilai USD 726 juta, Refined PKO sebesar 81 ribu ton senilai USD 159 juta, dan produk oleokimia sebanyak 23 ribu ton senilai USD 34 juta.

 Secara keseluruhan, ekspor sawit Indonesia ke Rusia pada tahun 2025 mencapai 792 ribu ton dengan nilai USD 919 juta, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 680 ribu ton senilai USD 681 juta. Hingga April 2026, ekspor telah mencapai 189 ribu ton dengan nilai USD 237 juta.

 Selain produk utama tersebut, Indonesia juga mengekspor produk hilir seperti hydrogenated palm oil, shortening, vegetable ghee, dan emulsifier, meskipun volumenya masih relatif kecil, yaitu sekitar 31 ribu ton dengan nilai USD 57 juta pada tahun 2025. Data ini menunjukkan bahwa ekspor sawit ke Rusia masih didominasi oleh produk minyak sawit olahan dasar, khususnya RBD Palm Oil dan RBD Palm Stearin.

 Rusia memiliki peran yang cukup penting sebagai mitra strategis Indonesia dalam diversifikasi pasar ekspor. Di tengah meningkatnya berbagai hambatan perdagangan dan tuntutan keberlanjutan di pasar Uni Eropa, seperti penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR), Rusia menjadi pasar alternatif yang mampu menjaga keberlanjutan ekspor sawit Indonesia.


INNOPROM 2026

Penandatanganan MoU tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan GAPKI di Rusia sepanjang 6–10 Juli 2026.

Sebelumnya, delegasi GAPKI berpartisipasi dalam INNOPROM 2026 di Yekaterinburg, pameran industri internasional terbesar di Rusia yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, investor, dan asosiasi industri dari berbagai negara.

Dalam forum "Palm Oil and the Future of Sustainable Energy: Balancing Climate Goals, Energy Security and Economic Development" pada Rabu, 8 Juli 2026, Kepala Bidang Luar Negeri GAPKI, Fadhil Hasan, memaparkan presentasi berjudul "Sustainable Palm Oil: Strengthening Global Energy Security and Industrial Competitiveness."
Presentasi tersebut menegaskan peran strategis minyak sawit sebagai bagian dari solusi transisi energi global sekaligus penggerak daya saing industri dan ketahanan energi. Dalam paparannya, Fadhil Hasan menjelaskan bahwa industri sawit Indonesia terus menunjukkan kinerja yang kuat.

 Dia memaparkan bahwa produksi minyak sawit Indonesia (CPO+PKO) pada tahun 2025 mencapai 56,6 juta ton, meningkat sekitar 7,2 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 52,76 juta ton. Pada periode yang sama, volume ekspor naik dari 29,5 juta ton pada 2024 menjadi 32,3 juta ton pada 2025 atau tumbuh sekitar 9,5 persen.

 Peningkatan volume ekspor tersebut diikuti oleh kenaikan nilai ekspor dari sekitar US$27,8 miliar pada 2024 menjadi US$35,9 miliar pada 2025, mencerminkan meningkatnya permintaan global serta tingginya daya saing minyak sawit Indonesia di pasar internasional.

Di sisi lain, implementasi program biodiesel B50 mulai Juli 2026 diproyeksikan meningkatkan konsumsi domestik sekaligus memperkuat kontribusi sektor sawit terhadap ketahanan energi nasional.

Fadhil Hasan juga menekankan bahwa Indonesia terus memperkuat tata kelola keberlanjutan melalui pengembangan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang kini telah diperluas hingga mencakup sektor hilir dan bioenergi, dengan penguatan aspek ketertelusuran (traceability), transparansi, dan perbaikan berkelanjutan.

 Berdasarkan publikasi triwulan III 2025 dari data Rekapitulasi Sertifikasi ISPO Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, menyebutkan status sampai Oktober 2025, tercatat sebanyak 1.169 perusahaan/ pelaku usaha memiliki sertifikat yang masih berlaku. Angka ini terdiri atas 80 perusahaan Perkebunan Besar Negara (PBN), 931 perusahaan Perkebunan Besar Swasta (PBS), dan 97 kelompok pekebun.

GAPKI berharap kombinasi antara dialog bisnis di INNOPROM dan penandatanganan MoU di Moskow dapat menjadi momentum baru bagi penguatan hubungan ekonomi Indonesia-Rusia, khususnya di sektor minyak nabati.
Kolaborasi antar asosiasi industri diharapkan mampu mendorong peningkatan perdagangan, investasi, pengembangan teknologi, serta kerja sama dalam mewujudkan rantai pasok minyak nabati yang lebih efisien, tangguh, dan berkelanjutan.(lin)

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index