Kelapa Sawit Menghasilkan Buah Pasir ? Begini Cara Mengatasinya

Senin, 30 Juli 2018

Salah satu kendala yang kerap terjadi pada proses budidaya kelapa sawit adalah tanaman-tanaman yang kita pelihara menghasilkan buah pasir. Kasus ini umumnya terjadi pada tanaman muda dengan rentang usia antara 12-18 bulan. 

Buah pasir sendiri merupakan istilah untuk menyebutkan buah kelapa sawit yang ukurannya sangat kecil. Biasanya buah ini dihasilkan oleh tanaman kelapa sawit yang masih baru belajar menghasilkan buah.

Buah pasir mempunyai ukuran yang sangat kecil dengan berat jenjang yang ringan sekali di bawah 1 kg/tandan mirip seperti buah cengkeh. Tentu saja buah semacam ini tidak ideal bila diproses lebih lanjut karena tidak menghasilkan keuntungan. Sebagai petani, Anda harus melakukan suatu upaya untuk memutus mata rantai buah pasir tersebut supaya tanaman kelapa sawit bisa menghasilkan buah yang lebih besar. Sebab bila terus dibiarkan bukan tidak mungkin tanaman kelapa sawit tadi akan terus menghasilkan buah pasir.

Salah satu upaya untuk mengatasi kelapa sawit yang berbuah pasir adalah metode kastrasi. Pada prinsipnya, metode ini dilaksanakan dengan membuang semua buah pasir yang dihasilkan oleh tanaman kelapa sawit sebanyak tiga kali periode berbuah. Tujuannya ialah menekan pertumbuhan generatif tanaman tersebut sehingga pertumbuhan vegetatifnya bisa lebih dimaksimalkan. Setelah tanaman tersebut sudah cukup umur, barulah kita biarkan untuk menghasilkan buah kelapa sawit.

Di bawah ini manfaat-manfaat dari metode kastrasi untuk tanaman kelapa sawit :

Meningkatkan Pertumbuhan Vegetatif Tanaman. Tanaman yang usianya belum ideal memang sebaiknya lebih difokuskan pada pertumbuhan vegetatifnya. Dengan begini, tanaman kelapa sawit tersebut akan tumbuh semakin tinggi dan semakin besar menjadi pohon yang ideal untuk menghasilkan buah. Apabila energi dan nutrisi pada tanaman belum menghasilkan (TBM) ini terbagi untuk mendukung pertumbuhan generatif, maka pertumbuhan vegetatifnya tidak optimal. Batang kelapa sawit tersebut akan menjadi kecil sehingga buah yang dihasilkan pun kecil-kecil.

Menyeragamkan Berat Tandan Buah Sawit

Walaupun Anda menanam bibit kelapa sawit secara serempak di waktu yang sama, selang beberapa bulan kemudian posturnya pasti tidak sama. Ada tanaman yang tumbuh subur, tinggi menjulang, hingga tanaman yang masih pendek. Hal ini dikarenakan tingkat pertumbuhannya yang tidak seragam dan adanya tanaman sulam yang Anda tanam untuk menggantikan bibit yang tidak bagus. Metode kastrasi akan menyeragamkan kembali pohon-pohon sawit tersebut sehingga dapat menghasilkan berat tanda yang seragam pula sekitar 3-4 kg/tandan.

Mengurangi Tingkat Kelembaban Tanaman

Tanaman kelapa sawit yang masih muda umumnya menghasilkan tandan dalam jumlah yang cukup banyak. Bahkan tandan-tandan ini tumbuh hampir di setiap ketiak pelepahnya. Namun akibat masih rendahnya postur tanaman tersebut, tingkat kelembaban udara di sekitar buah pun cukup tinggi. Bila tidak segera diatasi, kondisi ini dapat memicu datangnya serangan jamur dan cendawan yang membawa bibit penyakit. Proses kastrasi akan mengurangi tingkat kelembaban udara pada tanaman kelapa sawit.

Memutus Siklus Hidup Hama

Metode kastrasi juga dapat memutus siklus hidup hama khususnya Thirataba rufivena. Hama ini berupa ulat yang berwarna cokelat muda, kepalanya cokelat, tubuh halus dipenuhi rambut, serta panjangnya mencapai 27 mm. Ulat ini merupakan bentuk larva dari ngengat yang berwarna cokelat kelabu dengan kilap perak, dan rentang sayapnya mencapai 25 mm. Ngengat ini suka sekali meletakkan telur-telurnya di sekitar buah kelapa sawit. Kemudian larvanya akan hidup di dalam buah sawit dan bunga jantan. Akibatnya buah pun menjadi berlubang dan nilai rendemennya menurun. *Klpswt/Se