Oleh: Rini Wati Siboro
Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Lancang Kuning
DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap finansial Indonesia mengalami metamorfosis yang signifikan, tidak hanya di tingkat korporasi dan institusi finansial besar, tetapi juga di kalangan individu yang selama ini relatif terabaikan terhadap instrumen investasi. Di tengah dinamika ekonomi global dan domestik, aparatur sipil negara (ASN) yang secara tradisional dikenal dengan perilaku keuangan yang konservatif atau bahkan konsumtif mulai menunjukkan ketertarikan yang meningkat terhadap pasar modal, khususnya investasi saham. Fenomena ini tidak bisa dipisahkan dari pengaruh kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter nasional.
Bank Indonesia memiliki mandat untuk menjaga stabilitas nilai rupiah melalui tiga pilar utama yaitu stabilitas harga, stabilitas sistem keuangan, dan stabilitas nilai tukar. Kebijakan suku bunga acuan (BI-7 Day Reverse Repo Rate), pengaturan likuiditas, serta komunikasi arah kebijakan moneter adalah instrumen utama yang digunakan BI untuk mencapai tujuan tersebut. Dampaknya pun langsung terasa ke semua segmen perekonomian, termasuk pasar modal.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa jumlah investor pasar modal di Indonesia terus meningkat secara signifikan. Hingga November 2025, jumlah Single Investor Identification (SID) telah mencapai 19,32 juta, tumbuh sekitar 30 persen secara year-to-date dibanding posisi akhir 2024, dan ditargetkan menembus 20 juta investor pada awal 2026. Pertumbuhan ini didominasi investor domestik yang mencapai lebih dari 60 persen dari total investor pasar modal.
Perkembangan data ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia bukan lagi ruang yang sempit bagi investor institusional atau investor besar saja, masyarakat luas, termasuk ASN, kini turut aktif mengambil bagian. Untuk konteks saham secara spesifik, jumlah investor yang berfokus pada instrumen saham juga mengalami peningkatan tajam, menembus 7 juta SID pada tahun 2025, naik dari posisi 6,38 juta pada akhir 2024.
Menurut penulis perubahan perilaku ASN terhadap aktivitas investasi terjadi karena beberapa faktor struktural dan psikologis yang membuat ASN, yang selama ini identik dengan stabilitas pendapatan namun terjebak pada konsumsi, mulai mempertimbangkan investasi saham.
Suku Bunga Rendah dan Alternatif Investasi, sepanjang 2024–2025, Bank Indonesia melakukan serangkaian kebijakan moneter yang cenderung akomodatif—termasuk penurunan suku bunga secara bertahap hingga mendukung pertumbuhan ekonomi. Walaupun pada awal 2026 Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 4,75 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung pertumbuhan, langkah suku bunga rendah telah menciptakan kondisi di mana instrumen keuangan berisiko rendah (seperti deposito) menjadi kurang menarik dibandingkan potensi imbal hasil di pasar modal. Bagi ASN, yang biasanya memiliki simpanan stabil namun mencari imbal hasil lebih tinggi untuk tujuan keuangan jangka panjang seperti pendidikan anak atau pensiun, kondisi ini menjadi momen refleksi penting.
Inflasi Terkendali dan Kepercayaan Makro, Bank Indonesia (BI) terus menekankan komitmennya pada stabilitas harga, sehingga inflasi tetap berada dalam rentang target 1,5–3,5 persen. Kebijakan ini berperan dalam menjaga daya beli masyarakat dan memberikan sinyal positif tentang prospek ekonomi jangka menengah. Kepercayaan ini turut berpengaruh terhadap preferensi ASN dalam mempertimbangkan aset berisiko seperti saham sebagai alternatif investasi yang memberi potensi hasil lebih tinggi daripada sekadar menabung atau berinvestasi di instrumen konservatif.
Persepsi Terhadap Risiko dan Literasi Keuangan, meningkatnya literasi keuangan di kalangan ASN juga tidak bisa diabaikan. Survei OJK menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan nasional meningkat, dengan kelompok generasi milenial dan Gen Z memiliki indeks literasi tinggi. Walaupun data ini bukan spesifik untuk ASN, hal ini mencerminkan tren yang lebih luas di masyarakat tentang pemahaman terhadap risiko dan instrumen investasi.
Meski data nasional menggambarkan pertumbuhan investor secara umum, belum ada statistik resmi yang secara spesifik mengukur perilaku investasi ASN dibandingkan dengan kelompok profesi lain. Namun beberapa sinyal kuat menunjukkan bahwa ASN mulai menyusun ulang prioritas finansial mereka. Suku bunga rendah, prospek inflasi terkendali, dan akses mudah ke pasar modal melalui platform digital mendorong ASN untuk mempertimbangkan saham sebagai salah satu aset diversifikasi portofolio.
Hal ini bukan tanpa tantangan, ASN tetap perlu memiliki pemahaman yang kuat tentang fluktuasi pasar modal dan risiko yang melekat. Tanpa edukasi yang memadai, ada kemungkinan ASN jatuh pada perilaku spekulatif atau keputusan investasi yang kurang rasional.
Bank Indonesia memainkan peran yang signifikan dalam membentuk iklim ekonomi yang memengaruhi preferensi investasi ASN. Meskipun BI tidak serta-merta “mengajak ASN untuk berinvestasi saham”, arah kebijakan moneter, stabilitas harga, serta komunikasi publik yang kredibel telah menciptakan kondisi di mana investasi saham menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan oleh ASN yang ingin mengejar hasil yang lebih tinggi.
Perubahan perilaku keuangan ASN dari pola konsumtif ke investasi produktif merupakan tren yang patut diapresiasi, tetapi sekaligus menuntut pendekatan edukasi yang lebih serius dari seluruh pemangku kepentingan. Dengan demikian, dukungan kebijakan yang tepat dan informasi yang akurat akan menjadi fondasi penting untuk mendorong ASN membuat keputusan investasi yang sehat dan berkelanjutan.*