Kolom Djoko Su'ud Sukahar : Lawan !

Kolom Djoko Su'ud Sukahar : Lawan !
Sawit selalu disoal. Padahal tanaman ini semula datang hanya sebagai tanaman hias. Diuji-coba Belanda sebagai tanaman kebun, ternyata akhirnya merajai dunia. Menjadi sumber minyak nabati murah, karena sekali tanam bisa dipanen rutin hingga 30 tahun lamanya. Sawit tidak hanya bisa diolah menjadi minyak goreng. Minyak ini juga menjadi bahan dasar kosmetik, pasta gigi, sabun, shampo, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Malah dengan semakin habisnya minyak dari fosil, sawit juga tampil sebagai penyelamat untuk bahan biodiesel. Tidak salah jika muncul banyak prediksi, bahwa di tahun-tahun ke depan, bahan pangan dunia itu akan berasal dari sawit. Jumlahnya tidak terkira, mencapai 60% kebutuhan pangan dunia. Sebuah potensi yang membuat berbagai belahan dunia ternganga. Bersyukurlah bangsa Indonesia yang dilewati garis katulistiwa. Sawit tumbuh subur di negeri ini. Afrika sebagai asal sawit hanya mampu merawat tanaman ini mungil dan cantik, tetapi tidak mampu membuatnya rimbun berisi buah. Sedang di negara sub-tropis sawit menggigil kedinginan, hingga taklah bisa memproduksi tandan yang rimbun. Dari tahun ke tahun produksi minyak nabati yang berasal dari sawit meningkat dengan tajam. Pasar dunia menyerap minyak ini dengan jumlah tak terkira. India dan China yang sebelumnya memenuhi kebutuhannya dari minyak rapseed, ginola, bunga matahari, dan kedelai beralih pada minyak sawit. Ini prospek bagus bagi Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Thailand yang bersuhu hangat. Tetapi bagi negara-negara sub-tropis, ini adalah sebuah ancaman besar.  Eropa sebagai penghasil tanaman-tanaman sub-tropis yang sebelumnya merajai minyak nabati dunia merasakan ancaman itu. Ya, gemerlap sawit melihat masa depan, dibarengi dengan suramnya minyak nabati produk negara sub-tropis. Ini yang menyebabkan berbagai perlawanan timbul untuk menjegal dominasi minyak sawit. Bahkan kalau mungkin, mereka merekadaya sawit agar mati hingga tidak ada lagi kompetitor bagi minyak nabati asal  negara-negara sub-tropis. Perlawanan itu semula dilakukan secara fairplay. Memberlakukan sertifikasi bagi sawit, agar berkesinambungan dan tidak merusak lingkungan. Namun ketika seluruh pemangku sawit melakukan itu dan sawit semakin menguasai pasar dunia, maka Eropa akhirnya ‘main kayu’. Mereka melakukan perlawanan terhadap sawit dengan ‘tidak jenius dan tidak jentelman’. Kampanye hitam mereka lakukan. Mereka sebut minyak sawit tidak baik untuk kesehatan, dituding merusak lingkungan, pangkal deforestasi, penyebab pencemaran dunia, mempekerjakan anak-anak, melanggar HAM, dan sampai dituding sebagai bursa korupsi. Negasi itu benar-benar sudah di luar nalar. Mereka ‘tidak jentelman’, karena semua hasil temuan itu didasari oleh hasil kajian dan penelitian di lapangan. Entah lapangan mana. Mereka picik. Produk intelektual itu ‘diselewengkan’ secara tidak intelek. Ilmu itu dipakai untuk membodohi dan membohongi dunia. Untuk itu kita juga mempertanyakan ahli yang melakukan kajian dan penelitian soal ini. Yang mengejutkan lagi, di sidang Parlemen Eropa, kajian dan penelitian yang tidak jelas dilakukan dimana dan kapan itu dijadikan topik bahasan. Dengan gagah mereka mengemasnya dalam ‘Resolusi Eropa’, dan tanpa malu-malu mereka mengamini, bahwa kebohongan dan pembodohan itu adalah nyata, bukan fiksi. Padahal semua tahu, mereka juga tahu, bahwa itu hanyalah sebuah sekual dari dramaturgi. Mungkin karena kebohongan itu sudah keterlaluan, maka Menteri Kehutanan Indonesia yang selama ini dianggap ‘kurang membumi’ di negerinya sendiri, akhirnya tersulut untuk berteriak lantang. Dia merasa tidak dihargai dengan sejumlah kebijakannya yang dianggap ‘pro-Eropa’. Dia pun berkata keras, ‘jangan intervensi negara kami’. Oh, saya jadi ingat ucapan senada yang dilakukan Winston Churchill dengan ‘Right or wrong my country’. Adakah jika tiap tesa Eropa berhasil digugurkan dengan antitesa yang berdasar fakta yang ada, Eropa akan tabik dan mengakui eksistensi sawit? Itu muskil. Sebab ini menyangkut gengsi dan harga diri sebuah benua, berbagai negara, dan konglomerasi usaha. Pasar raksasa dengan profit tak terkira. Bayangkan, Eropa menebar berbagai usahanya di berbagai negara, termasuk Indonesia. Mereka menerapkan pola penjajah bentuk baru, dengan mewajibkan seluruh perusahaannya itu mengimpor bahan dasarnya dari negaranya dengan meniskalakan bahan lokal. Dan pasar besar itu yang terancam dengan semakin merajalelanya minyak nabati dari sawit. Hancurnya minyak nabati sub-tropis itu, bakal menyebabkan semua jaringan berubah kartu domino. Bakal bertumbangan satu-persatu. Dan itu tidak akan dibiarkan Eropa. Dengan kata lain, perlawanan Eropa terhadap sawit akan panjang dan berlangsung lama. Mereka akan terus melakukan itu, kendati entah bagaimana caranya. Terus bagaimana sikap kita terhadap perlawanan itu? Rasanya cukup dengan satu kata : Lawan ! Dan jika negara ini ‘bisa marah’, paksa seluruh perusahaan asing itu untuk menggunakan minyak sawit. Jika tidak mau, usir dan bekukan. Sebab tanpa sikap tegas itu, maka harkat dan martabat bangsa ini menjadi taruhan. Djoko Su’ud Sukahar

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index