Seks Caligula (18) : Cinta dan Birahi Sang Kakak

Seks Caligula (18) : Cinta dan Birahi Sang Kakak
Mendengar ucapan Caligula itu Drussila menutup mulut Sang Kakak. Ia tak ingin Caligula meneruskan ucapannya yang salah itu. Ia masih punya kesadaran. Belum gila dan sesinting Sang Kakak. Dengan bahasa lembut ia gugah kembali soal itu. Soal incest yang melanggar norma dan etika, serta asal-muasal dan posisi harusnya. Namun Caligula seperti tak perduli. Laki-laki ini tetap bergelenjot mesra. Ia membopong tubuh Drussila yang masih telanjang itu. Ia angkat pinggul gadis ini. Ia ciumi sekujur tubuhnya. Dan Drussila yang kegelian, lambatlaun terbangkit juga birahinya. Gadis ini pun akhirnya kembali dirasuki rangsangan itu. Ia merintih. Tubuhnya bergelinjang. Pinggulnya yang disanggah tangan Caligula berputar-putar tak terkontrol. Tapi Caligula terus merangsangnya. Saat Caligula mulai tak mampu menahan nafsu seksnya, laki-laki itu pun menarik pinggul Drussila. Ia menempatkan pinggul Sang Adik di pangkuannya. Ia menyilangkan dua paha gadis ini. Dengan gerak kasar, laki-laki itu memainkan tubuh adiknya itu seperti gasing yang berputar. Ketika lenguhan dan rintihan kembali terdengar, dua tubuh itu pun akhirnya loyo. Caligula menciumi wajah dan leher Drussila. Setelah itu, seperti bayi, ia menetek di payudara gadis ini. Saat itu laki-laki yang telah menjadi raja itu tak lagi kelihatan perkasa. Wajahnya tampak memelas minta dikasihani. Dan tangannya merangkul ketat seperti minta perlindungan. Dan kalau sudah begitu, maka gadis ini kembali terharu. Ia merasa, betapa kakaknya itu mengalami penderitaan batin yang berat. Senyatanya, ia taklah raja yang keji, buas dan haus seks. Segala keburukan itu hanyalah sebab dari serangkaian akibat masalalunya. Ia adalah layang-layang yang putus tali dan melakukan kompensasi dengan perbuatan yang diluar kewajaran manusia. Berpikir tentang penderitaan Sang Kakak, maka Drussila mulai bicara lunak. Ia memberi saran agar Caligula segera mencari pasangan hidup. Mencari wanita yang layak untuk mendampinginya dalam menjalankan roda pemerintahan Kerajaan Romawi. "Bukan aku. Aku adalah adikmu. Itu dilarang untuk dikawini," kata Drussila keras. (jss/bersambung)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index