Seks Caligula (5) : Raja Gila Ciptakan Sejoli Sakit Jiwa

Seks Caligula (5) : Raja Gila Ciptakan Sejoli Sakit Jiwa
Setelah peristiwa itu, nasib Caligula mengambang. Bukan karena perkosaan yang dilakukannya terhadap Ennia, tapi semata karena tabiat raja Tiberius, kakek Caligula yang sinting. Kesintingan raja itu telah membawa korban. Ayah Caligula, Humanikus, mati dibunuh. Juga ibu dan beberapa saudaranya yang lain. Yang tersisa akhirnya tinggal Caligula dan adik perempuannya yang cantik, Drussila. Sejak itu Caligula keluar istana. Ia meninggalkan Macro, teman akrabnya yang menjadi orang penting istana. Juga Ennia, gadis yang habis diperkosanya, serta para gundik yang selama ini memberinya kepuasan seksual. Caligula bersama Drussila, adiknya yang cantik, tinggal di sebuah puri yang jauh dari kerajaan Romawi. Puri itu amat indah dan tenang. Suasana pedesaan amat kental. Puri itu dikitari tanaman rimbun. Penuh pohon oak dan cemara gunung. Di daerah yang indah dan sejuk itu Caligula dan Drussila mukim. Saban hari yang dilakukannya adalah bermain. Main kejar-kejaran, petak umpet, dan menirukan gerak burung. Tingkah laku mirip anak-anak itu sebagai cerminan, bahwa dua remaja yang beranjak dewasa ini sebenarnya sudah mengalami gangguan jiwa. Mereka menderita psikopat akibat hidup dalam lingkungan yang diliputi kebiadaban, kekejaman dan demoralisasi. Suatu siang, Caligula dan Drussila main kejar-kejaran. Ketika capek, di padang rerumputan, keduanya berjalan berangkulan. Tiba di sebuah pohon besar, Drussila telentang membaringkan tubuh untuk melepas lelah. Ia diam memejamkan mata. Sedang Caligula duduk bersandar pada pohon. Tubuh Drussila yang padat berisi hanya terbalut kain tipis warna putih. Tanpa beha dan celana dalam. Satu payudaranya yang ranum dibiarkan bebas dinikmati. Sedang yang satu lagi, hanya kelihatan putingnya dari kain yang tembus pandang. Pakaian itu sama dengan yang dikenakan Caligula. Di tengah kelengangan alam itu, nampaknya nafsu Caligula terbangkitkan. Tangannya mulai merayapi Drussila. Gadis itu terdiam karena menganggap biasa. Begitu juga saat wilayah dadanya dipijat-pijat. Tiba-tiba angin nakal bertiup. Kain tipis penutup bagian bawah gadis ini tersingkap. Mata Caligula terkesiap. Ia menikmati wilayah Drussila itu. (jss/bersambung)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index