Tiga Sekuriti Ditembak Oknum Suku Anak Dalam Pakai Senjata Rakitan

Tiga Sekuriti Ditembak Oknum Suku Anak Dalam Pakai Senjata Rakitan

RIAU – Tiga korban penembakan senjata rakitan oleh Suku Anak Dalam di Sarolangun, Jambi, kini mendapatkan perawatan intensif di Pekanbaru, Riau. Mereka tengah berbaring di rumah sakit, merasakan sakit yang luar biasa dan trauma akibat peluru yang masing-masing mengarah ke kepala, dada dan perut akibat menjaga keamanan perkebunan kelapa sawit dari pencurian.

Malang menimpa salah satu korban bernama Melianus yang baru bekerja selama tiga hari sebagai petugas keamanan di perusahaan perkebunan di Jambi. Dia bersama dua orang rekannya  menjadi korban penganiayaan hingga penembakan senjata api rakitan oleh suku anak dalam atau orang rimba.

Saat dijumpai di Rumah Sakit, Melianus menuturkan penyebab penyerangan kepadanya hanya karena oknum-oknum Suku Anak Dalam tersebut tidak terima ada security yang menjaga perkebunan dari tindakan pencurian. Pasalnya selama ini tidak ada yang menjaga dan dia bersama rekannya baru tiga hari menjadi petugas di sana.

"Kami security tujuannya untuk menjaga tapi orang rimba tidak terima ada (kami yang bantu) turun jaga. Maka mereka ambil tindakan, tak suka mereka kami jaga lahan," ujarnya seperti di lansir antara kemarin.

Perihal dugaan oknum Suku Anak Dalam yang kerap melakukan pencurian buah sawit di kebun itu, dia mengaku tidak tahu. Akan tetapi menurut kesaksiannya memang pernah melihat para penyerang itu memegang alat panen sawit seperti Dodos di areal kebun.

Lebih lanjut dia menilai bahwa peristiwa tersebut murni merupakan pengeroyokan karena dirinya tidak melakukan perlawanan. Namun begitu dia mengaku tidak tahu siapa yang menjadi provokatornya.

Sebelum terjadi penyerangan pihak keamanan setempat bersama kelompok oknum tersebut sejatinya telah melakukan mediasi yang turut disaksikan oleh Kepala Desa, Kapolsek, dan Camat setempat. Perangkat pemerintah daerah dan kepolisian telah mengimbau massa untuk membubarkan diri sembari menunggu hasil mediasi tetapi anjuran tersebut diabaikan.

"Siang itu kami pulang ke mess untuk istirahat makan lalu tiba-tiba dipanggil untuk kumpul ke kantor. Di sana tiba-tiba mereka datang saja menyerang. Posisi saya ada di depan makanya kena tembak," ungkapnya, Kamis (16/04/2026).

Para suku anak dalam itu kata dia jumlahnya lebih dari 50 orang datang menyerang. Dari kejauhan pada sekitar jarak 100 meter sudah terdengar bunyi letusan tembakan yang kencang, sehingga para petugas keamanan lari berhamburan.

Begitu juga dengan Melianus yang berusaha menyelamatkan diri. Na'as, ketika membelakangi para penyerang kepalanya terkena tembak senjata api rakitan. Sementara dua orang rekannya yang lain terkena tembakan di dada karena masih menghadap ke depan para penyerang tersebut.

Saat suara tembakan telah meletus, suasana sudah tidak kondusif lagi. Terdengar beberapa kali bunyi suara tembakan yang besar sehingga tidak ada yang berani menghalau. Untungnya ambulans perusahaan langsung dikerahkan sehingga Melianus dan rekannya bisa mendapatkan pertolongan.

"Waktu itu ada ambulans langsung dibawa ke rumah sakit di Jambi. Tiba di rumah sakit saya pingsan, tak tahu lagi apa yang terjadi. Sampai di sini (Pekanbaru) baru kemarin dikeluarkan pelurunya," katanya.

Akibat penyerangan itu saat ini Melianus harus menjalani perawatan intensif di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, demi bisa mengeluarkan pelurunya dengan cepat dari kepala sebelum terlambat. Kendati demikian, dirinya hanya bisa bersyukur dengan keadaan yang sudah mulai membaik saat ini.(lin)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index