Kolom Okta (1) : The End of Big

Sabtu, 09 Desember 2017

PIDATO Lieutenant Governor of Utah, Spencer Cox, disambut aplaus panjang para tamu undangan jamuan makan siang di Salt Lake City, akhir Februari lalu. Di hadapan sekitar 300-an pengusaha di bidang manufaktur, Lieutenant Governor yang baru berusia 38 tahun itu membicarakan gelombang perubahan yang tengah terjadi di muka bumi. Perubahan itu membawa dampak dramatis terhadap cara kita memimpin, mengelola perusahaan, bekerja, belanja, belajar, dan lain-lain. Saya merasa beruntung dapat hadir mendengarkan langsung pidato Lieutenant Governor yang enerjik dan memiliki visi kuat dalam turut memajukan negara bagiannya tersebut. Di Indonesia, jabatan Lieutenant Governor serupa dengan Sekretaris Daerah (Sekda). Salah satu hal yang menarik, menurut saya, adalah ketika sang Sekda membicarakan sebuah buku berjudul The End of Big. Buku yang dirilis tahun lalu itu ditulis Nicco Mele, seorang ahli web strategy yang pernah terlibat dalam kampanye Barack Obama ketika masih mengejar kursi Senator. Buku itu menceritakan tentang bagaimana teknologi berbasis internet telah secara radikal mengubah pola hidup manusia. Bagaimana institusi-institusi besar tidak bisa lagi mendominasi atau mendikte pola pikir publik secara luas. Bagaimana individu-individu mulai mencari jalan alternatif akibat kekecewaan mereka terhadap “kepemimpinan” institusi-institusi besar. Pendek kata, telah terjadi pergeseran pengaruh (power) dari institusi-institusi besar ke tingkat individual. Kehadiran internet, misalnya, telah menggeser definisi “bekerja” dan apa itu “pekerjaan”. Bekerja tidak lagi harus berangkat pagi dan pulang malam dari kantor. Bekerja jarak jauh (telecommuting) atau bekerja dari rumah juga tak kalah produktif karena tak harus berpeluh keringat untuk mencapai kantor. Status seseorang bahwa dia punya pekerjaan tidak lagi hanya diberikan institusi-institusi besar. Sekarang makin jamak orang-orang yang bekerja sendiri (self-employed). Ia menjadi juragan dan karyawan sekaligus. Seseorang bisa saja terlihat hanya mondar-mandir di rumah, tapi kliennya bertebaran di berbagai negara. Semua berkat internet. Beli barang pun pun sekarang hanya one-click away. Dalam waktu singkat dan tanpa buang-buang bahan bakar kendaraan, kita bisa memilih barang dan harga dari komputer pribadi atau telepon pintar kita. Tinggal klik sana-sini, barang yang kita beli diantar sampai di depan pintu rumah. Sebastian Thrun, ahli Robotika dari Stanford University, menjadi contoh menarik bagaimana masyarakat dapat mencari jalan alternatif jika kecewa terhadap dominasi institusi besar. Thrun memilih mundur dari kampusnya akibat prihatin melihat biaya kuliah yang terus meroket. Biaya kuliah di Stanford University mencapai USD 30 ribu (lebih dari Rp 330 juta) per tahun. Setelah lulus kuliah, tak sedikit mahasiswa yang masih harus menanggung utang (student loan). Thrun akhirnya mendirikan Udacity karena ingin membagi ilmunya kepada banyak orang melalui jalur online. Dan dengan biaya lebih murah, tentunya. Kalau sebelumnya dia mengajar hanya untuk sekitar 20-an mahasiswa per kelas, sekarang bisa mencapai ribuan. Thrun mengaku terinspirasi oleh Salman Kahn, pendiri Kahn Academy, yang awalnya membuat video tutorial online untuk mengajarkan matematika kepada keponakannya. Apa yang dilakukan Salman Kahn telah menggeser definisi di kepala kita tentang proses belajar. Thrun makin bersemangat dengan Udacity karena dia menerima kabar dari salah seorang peserta pendidikan online-nya yang berasal dari Afghanistan. Si mahasiswa menceritakan bahwa dirinya menyelesaikan tugas-tugas belajar online-nya di tengah hujan mortir dan roket di negaranya. Suatu hal yang tak terbayangkan sebelumnya oleh Thrun. (okta heri fandi/bersambung)