Hilirisasi Sawit, Sumut Tunggu Investasi Perusahaan Kelas Kakap

Jumat, 22 Maret 2019

MEDAN-Sumatera Utara sama halnya dengan Provinsi Riau memiliki potensi sawit yang sangat besar. Termasuk 
potensi hingga 80 jenis produk turunannya, seperti yang disampaikan Sekretaris Daerah Sumatra Utara R Sabrina.

Namun, sayangnya belum ada pengembangan hilirisasi sawit dan dikembangkan secara masif sehingga belum menghasilkan produk yang cukup beragam dan mampu meningkatkan nilai tambah. 

Untuk itu dikatakan Sabrina, pengembangan industri pengolahan tetap membutuhkan investasi perusahaan kakap karena diperlukan teknologi yang mumpuni. Di sisi lain, berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, pada 2018, terdapat 930 koperasi yang bersertifikat di Sumatra Utara. Mereka berpotensi untuk dikembangkan sehingga sektor pengolahan sawit bisa tergarap.

"Sumatra Utara memiliki bahan atau sumber daya yang cukup besar potensinya, misalnya saja CPO Sumatra Utara yang memiliki banyak turunan produknya hingga 80 jenis tapi belum dikembangkan di sini,” ujar Sabrina seperti yang dilaporkan Bisnis.com.

Menilik pembangunan industri pengolahan kelapa sawit, terdapat beberapa cara hilirisasi sawit yang bisa dikembangkan.

Pertama, hilirisasi oleo pangan, yakni pengolahan dengan hasil akhir produk pangan seperti minyak goreng dan mentega. 

Kedua, hilirisasi oleo kimia yang menghasilkan oleokimia dasar seperti biosurfaktan yaitu deterjen, sabun dan sampo. Lalu, produk berupa pelumas dan bioplastik.

Ketiga, yakni biofuel atau pengolahan crude palm oil (CPO) sebagai bahan campuran atau bahan bakar kendaraan juga sumber tenaga listrik. 

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), sepanjang 2018, Sumatra Utara dan Riau berkontribusi hingga 40% terhadap produksi minyak kelapa sawit nasional. 

Produksi yang cukup besar ini belum bisa diimbangi dengan hilirisasi meskipun Sumatra Utara memiliki Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang berkonsentrasi membangun industri pengolahan sawit dan karet.

Pabrik minyak goreng dan oleokimia memang sudah terbangun di KEK Sei Mangkei. Untuk penggunaan lainnya, seperti bahan bakar nabati serta sumber tenaga listrik masih belum signifikan.(rdh)