Kadisbun Riau : Harga Sawit Riau Masih Tertinggi di Sumatera

Selasa, 17 Juli 2018

PEKANBARU -Berkurangnya ekspor minyak sawit, sedikit banyak berdampak pada penurunan harga sawit yang sedikit menurun. Dan ini bisa dikatakan krisis menyeluruh terhadap pasar kelapa sawit. Kendati ini tidak berpengaruh besar pada harga sawit di Riau. Sebab harga kelapa sawit di Riau masih yang tertinggi di Sumatera.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Ir Ferry HC ketika ditemui Sawitplus.co di ruang kerjanya Selasa (17/7) mengatakan, bahwa dinas yang dipimpinnya ini tidak mempunyai kebijakan dalam penetapan harga sawit. Karena harga itu berdasarkan permintaan di lapangan.

"Negara-negara importir seperti Bangladesh, India dan China mulai mengurangi impornya. Sedangkan untuk negara pengekspor terbesar kelapa sawit adalah Indonesia dan Malaysia. Ini bisa dilihat dan dihitung dari luas perkebunan dan kualitas buahnya," jelasnya.

Lanjutnya, permintaan terhadap sawit dalam arti CPO memang mengalami penurunan. "Karena itu kita sudah melakukan pertemuan dengan GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) untuk membicarakan masalah ini. Dan pada intinya GAPKI pun ingin harga sawit naik," jelasnya.

Sebenarnya, lanjutnya, harga sawit bukan turun tetapi agak turun. Ini karena harga masih mengikuti paikologi harga kelapa sawit yang bagus, yang masih di atas Rp 1.500, malah mendekati Rp 1.700. "Hari ini penetapan dan harga masih dalam psikologis harga kelapa buah sawit yang cukup bagus," terangnya.

Dan untuk Riau sendiri, lanjutnya, harga masih tertinggi dibandingkan dengan daerah penghasil sawit lainnya di Sumatera seperti, Jambi, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan.

 

“Itu baik dalam hal TBS (Tandan Buah Segar) maupun rendemennya. Sehingga harga yang diterima petani sawit di Riau masih yang tertinggi dibandingkan wilayah lain di Sumatera,” tambahnya.

Dengan adanya UU No 23 mengenai efisiensi yang mengakibatkan masalah perkebunan yang biasanya ditangani eselon II, kini ditangani eseloan III, menjadikan wewenang semakin kecil.

"Tapi ini bukan masalah. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin dengan penurunan jumlah OPD di dalamnya, sehingga tidak menjadi hambatan," terangnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, bahwa harga sawit yang dikabarkan turun menjadi Rp 700 bahkan hingga Rp 600 adalah tidak benar. Petani sawit, lanjutnya, bermitra dengan pabrik-pabrik kelapa sawit di Provinsi Riau, sehingga petani tersebut akan menetapkan harga sesuai dengan yang diterbitkan dinas terkait.

"Namun, bagi petani-petani yang tidak bermitra dengan pabrik-pabrik kelapa sawit di Provinsi Riau, maka bisa jadi kelapa sawitnya dibeli dengan harga murah," terangnya. ezy