PT SLS Bentuk Kelompok Nelayan, Untuk Menjaga Lingkungan

Jumat, 19 Januari 2018

Firman memiliki pondok di tepi anak Sungai Lubuk Bungkuk. Dia kebetulan kerap didatangi orang-orang dari PT Sari Lembah Subur (PT SLS) yang hendak membeli ikan hasil tangkapannya. Dari sekadar bercerita ringan hingga obrolan berbentuk diskusi pun terjalin antara dia dengan perusahaan. Saat itu, Firman hanya menginginkan bagaimana dia dan nelayan-nelayan lainnya bisa menjaga Sungai Lubuk Bungkuk ini dari oknum-oknum tak bertanggung jawab agar tak terjadi lagi kebakaran. Pucuk dicinta ulam tiba! Begitulah pepatah mengatakan jika niat dan keinginan sudah bertemu. Keinginan Firman dan rekan-rekan nelayan lainnya mulai terrealisasi saat PT SLS menawarkan mereka untuk membentuk kelompok NPL ini. Para nelayan jelas antusias menyambut, dan realisasi awal PT SLS adalah dengan mengundang 17 nelayan yang kesemuanya berasal dari Desa Bukit Garam dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Pelalawan. Pembicaraan awal saat itu seputar pembentukan Kelompok Nelayan Peduli Lingkungan beserta tujuannya. "Setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya terbentuklah kelompok Nelayan Peduli Lingkungan binaan PT Sari Lembah Subur. Resminya NPL ini terbentuk tanggal 7 November 2017 lalu," terang Direktur PT SLS, Suparyo, didampingi Humas PT SLS, Setyo Budi Utomo, pada media ini. Awalnya, kata Suparyo, kelompok ini dinamakan Nelayan Peduli Api (NPA) tapi pada perkembangannya kemudian pihaknya mengubah nama itu menjadi tak hanya api saja tapi pada ruang lingkup yang lebih besar lagi, yakni lingkungan. Asumsinya, para nelayan yang kesehariannya mencari nafkah di Sungai Lubuk Bungkuk itu diharapkan tak hanya menjaga sungai dari kebakaran saja tapi lebih baik jika mampu mencegahnya. "Lokasi ini memang bagus untuk memancing sehingga banyak orang luar yang bukan dari masyarakat tempatan datang untuk menangkap ikan di sini. Tapi yang banyak tidak disadari para pendatang adalah kurangnya mereka menjaga lingkungan. Buang puntung rokok sembarangan, bikin api untuk pengasapan ikan dengan menyisakan bara apinya, hal-hal kecil itu yang membuat Karhutla kembali terjadi," jelasnya. Dengan terbentuknya NPL ini, lanjut Suparyo, para nelayan diharapkan bisa menegur langsung jika ada pemancing yang tanpa disadari melakukan sesuatu tindakan yang merusak lingkungan. Para NPL yang semuanya berprofesi sebagai nelayan ini memiliki wewenang untuk hal tersebut. Karena itu, para NPL ini dibekali berbagai pelatihan serta pemahaman akan pentingnya menjaga lingkungan dari instansi terkait yang didatangkan perusahaan. "Jika terjadi apa-apa, misalnya kembali terjadi kebakaran di Sungai Lubuk Bungkuk ini, yang merasakan pertama kali pasti nelayan yang sehari-hari menggantungkan mata pencahariannya di sini. Para NPL inilah yang merasakan pahit manisnya saat mengais rezeki dari sungai ini. Jadi mereka diharapkan bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga lingkungan di sekitar Sungai Lubuk Bungkuk ini, atau dari ulah oknum-oknum yang tak bertanggung jawab," ungkapnya. Begitu juga apa yang disampaikan oleh perwakilan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Pelalawan, Kapolsek Kerumutan IPTU Sohermansyah melalui Bhabinkamtibmas Kelurahan Kerumutan, Brigadir Dedi Kurniawan, memberikan pemahaman pada para NPL tentang pentingnya menjaga lingkungan agar tak terjadi lagi karhutla di kantor PT SLS. Dalam kesempatan tanya jawab itu, Kabid Pemberdayaan Usaha Perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan Pelalawan, Rani, yang mewakili Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Pelalawan, Ir Wahiduddin, M,Si mengatakan, bahwa para nelayan yang sudah tergabung dalam NPL diharuskan menjadi contoh terdepan dalam menjaga lingkungan khususnya sungai. "Soalnya kalau lingkungan sungai terbakar, kan Bapak-Bapak juga yang rugi karena tak bisa menangkap ikan. Karena itu, Bapak-Bapak harus bersyukur karena PT SLS mau menjadikan NPL di bawah binaan perusahaan. Dengan begitu, selain Bapak-Bapak dibantu alat penangkap ikan, Bapak-Bapak juga akan diberikan pelatihan mengenai cara memadamkan api guna menjaga lingkungan," katanya. Bagi Rani, apa yang dilakukan oleh PT SLS ini adalah sebagai bentuk komitmen perusahaan pada masyarakat sekitar yang diwujudkan melalui program Community Sosial Responsibility (CSR). Di tengah terjadinya rasionalisasi anggaran daerah, peran pihak perusahaan atau swasta memang benar-benar diperlukan agar terjadi kesinambungan pembangunan yang berkelanjutan dalam membangun Kabupaten Pelalawan ini. "Dan  PT SLS telah menunjukkan komitmen itu dengan memberdayakan para nelayan untuk bergabung dalam NPL ini, dengan tujuan menjaga lingkungan sekitar sungai," katanya. Apa yang dilakukan PT SLS lewat program Community Social Responsibility (CSR) ini pada masyarakat tempatan yang berprofesi nelayan, sedikit banyak telah menunjukkan komitmen perusahaan tersebut pada masyarakat yang berada di sekitar wilayah perusahaan. Dalam skala kecil, program CSR yang dilakukan oleh perusahaan pada masyarakat tempatan yang berada di ring satu perusahaan adalah sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka pada masyarakat dan lingkungan sekitar. Namun dalam tataran yang lebih tinggi lagi, apa yang dilakukan PT SLS lewat program CSR adalah bentuk pertanggung-jawaban pada bangsa dan negara ini. Kegiatan CSR yang dilakukan oleh PT SLS ini sangat sejalan dengan salah satu dari filosofi Catur Dharma, yakni menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Artinya, perusahaan berkontribusi dan bertanggung jawab pada masyarakat dan lingkungan, dengan menciptakan keseimbangan antara kepentingan bisnis, sosial, dan lingkungan. "Ini program yang sinergi sekali, dimana PT SLS merangkul masyarakat tempatan yang berprofesi sebagai nelayan untuk kemudian diarahkan menjadi nelayan yang peduli pada lingkungan. Simbiosis mutualisme yang bagus, karena selain masyarakat juga bisa turut menjaga lingkungan, perusahaan pun memberikan dampak nyata akan keberadaannya di tengah masyarakat," terang Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Pelalawan, Ir Wahiduddin, M,Si, saat dimintai tanggapannya soal program CSR yang dilakukan oleh PT SLS ini. Wahiduddin menyatakan dirinya begitu apresiasi dengan terbentuknya NPL yang merupakan binaan dari PT SLS. Menurutnya, kepedulian masyarakat akan pentingnya menjaga sumber daya perairan sangat lah penting. Sumber daya perairan yang baik itu, salah satunya ditentukan dengan adanya keterlibatan masyarakat setempat dalam menjaga lingkungannya. Apalagi karhutla yang kerap terjadi di Riau dan juga di Kabupaten Pelalawan, berdampak pada masyarakat nelayan. "Karhutla jika bersinggungan dengan perairan maka akan menyebabkan kerusakan ekosistem perairan itu. Dan rusaknya lingkungan jelas akan berpengaruh besar terhadap hasil penangkapan para nelayan. Di sini peran NPL diperlukan agar bisa terlibat menjadi pemadam api sebelum meluas, sangat diperlukan, bahkan mereka harus bisa menjadi garda terdepan dalam pecegahan karhutla di lokasi mereka mencari nafkah. Kita berharap apa yang dilakukan oleh PT SLS ini dapat ditiru oleh perusahaan-perusahaan lain dengan memberdayakan masyarakat tempatan sesuai dengan kondisi di daerah tersebut," tukasnya. ndy