Prof. DR. IR Hasan Basri Jumin MSc : Tuding Sawit Perusak Itu Politis

Sabtu, 17 Juni 2017

Sawit dikesankan negatif memang bukan baru. Itu kampanye hitam yang selama ini dilancarkan Eropa.  Isu itu sudah menjadi manajemen yang terpola. Untuk itu, politik dagang kita perlu ditingkatkan, sebab berdasar kajian ilmiah, sawit tidak seperti itu. Yang mengatakan itu adalah Prof Hasan Basri Jumin. Dia satu-satunya profesor bio technology dari Indonesia yang hadir sebagai salah seorang peserta seminar international Conference on Agriculture di Barcelona pada Juli 2016 silam. Dalam seminar yang berjalan beberapa hari itu ternyata telah menjadi arena black campaign soal minyak nabati sawit. Kampanye hitam. Sampai-sampai, salah seorang pecentre atau pemakalah dari Arab Saudi-Dubai yang notabene bukan berasal dari Dubai mengatakan, kalau kandungan nutrisi minyak sawit itu sangat berbahaya. “Ya, kata pemakalah itu, salah satunya jika mengkonsumsi minyak sawit, maka akan menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Karena minyak sawit mengandung kolesterol jenuh yang banyak,” ungkap profesor putra Kampar-Riau itu pada SawitPlus.com di gedung Pasca sarjana Universitas Riau. Bagi Prof Dr Ir Hasan Basri Jumin, MSc yang kini juga sebagai Guru Besar Universitas Islam Riau pada Fakultas Pertanian bidang Bio Teknologi UIR itu, kondisi realnya tidaklah sejelek yang dipaparkan itu. “Jadi pada dasarnya ini black campaign sebagai upaya beberapa negara-negara di Eropa untuk menjelekkan sawit. Sayangnya ini tidak di-counter oleh produsen minyak sawit kita. Nah, seharusnya ini tidak boleh lepas dari produsen minyak sawit kita. Sehingga harusnya di-counter secara ilmiah, untuk menjawab tudingan negatif tentang sawit,” tandas Jumin. Secara tegas, Jumin yang lulusan program doctor Jepang ini memandang, semua itu memang bukan isu lagi, tapi sudah merupakan manajemen yang terpola. “Padahal, setelah saya pelajari proses minyak sawit menjadi minyak goreng ini, sudah melewati proses yang panjang. Sampai pada penyaringan lemak jenuh yang berlebih. Jadi sebagain besar beberapa racun berbahaya untuk dikonsumsi itu telah dibuang,” yakin Jumin. Tambah Jumin, jika dibandingkan dengan lemak minyak kedelai, minyak sawit justru lebih rendah kandungan lemak jenuhnya. Memang sementara ini di Eropa ada minyak pilihan yang lebih baik, yaitu minyak zaitun, atau olive oil. Tapi minyak ini relatif mahal. Sementara minyak sawit masih lebih murah, makanya konsumsi minyak sawit di Negara Rusia, Eropa, dan Amerika, ternyata masih besar. Terkait dengan bencana ekologis, bahwa telah terjadi eksplorasi hutan akibat sawit, menurut Jumin mungkin juga ada benarnya tapi juga tidak seburuk kabar yang tersiar di Eropa. Tanaman sawit justru hemat air jika dibandingkan tanaman hutan maupu karet. “Hal itu dikarenakan sistem perakaran serabut yang dimiliki sawit yang masif membentuk biopori alamiah yang berfungsi menyimpan air dan bahan organic lainnya,” tambah Jumin. Namun kenapa sawit terus didiskreditkan? “Ya, kita kalah strategi selama ini. Maka ada langkah strategis bagi produsen minyak sawit kita, pertama; politik dagang kita perlu ditingkatkan. Kedua; bahwa minyak sawit memang masih ada efek negatifnya, maka, perlu sekali untuk memperbaiki kualitas sawitnya. Ketiga; kenyataannya, bahwa ada kelemahan kita negosiasi dengan brooker pasar internasional. Ini juga sangat perlu ditata lebih baik,” kata Jumin. Kemudian yang keempat, tambah Jumin, bahwa Malaysia yang juga salah satu produsen minyak sawit terdampak soal ini, sehingga ini juga perlu dipelajari sebagai bagian dari politik dagang kita juga. “Jadi kalau disebut sawit sebagai tanaman perusak? Itu tidak benar. Itu mengada-ada saja. Tapi kalau sawit merupakan tanaman multikultur itu iya. Tapi juga bukan tanaman monokultur terluas. Justru negara di Eropa dan Amerika memiliki tanaman monokultur lebih luas. Soal isu sawit yang miring selama ini, itu lebih banyak politisnya. Soal limbah CPO itu sudah diolah ke berbagai produk sampingan bernilai ekonomis. Diantaranya menjadi pupuk yang banyak manfaatnya,” tutup Jumin. mjp