Tombak Kiai Pleret (1) : Pembunuh Arya Penangsang dari Jipang

Rabu, 20 Desember 2017

Tahun baru Islam, tanggal 1  Muharam, dalam perhitungan Jawa dikenal sebagai Bulan Suro. Sebuah bulan yang dipenuhi banyak ritus. Ini tulisan untuk mengenalkan budaya itu. Tombak Kiai Pleret ini tombak bersejarah. Tombak penyaksi berdirinya Kerajaan Mataram. Itu kalau benar tombak ini yang menyudahi nyawa Arya Penangsang dari Jipang. Tidak heran jika berbagai mitos kental melekat di pusaka ini. Ada yang percaya, bahwa tombak ini berasal dari penis Syeh Maulana Magribi. Ada pula yang mengatakan berasal dari Kraton Kartosuro. Konon, pusaka yang berkedudukan paling tinggi ini diberikan langsung Amangkurat V pada Pangeran Mangkubumi, ketika sang pangeran sudah sepuh (tua). Tombak ini dipercaya sakti dan digdaya. Tombak ini terbilang haus darah. Tiga ksatria menjadi korbannya. Satu diantaranya adalah orang sakti dari kerajaan Pajang, Arya Penangsang. Arya Penangsang terlibat pertempuran melawan Danang Sutawijaya. Itu karena Mataram yang kala itu masih di bawah Pajang, selalu menolak untuk patuh. Dianggap sebagai pemberontak, dan pasca kematian Arya Penangsang, Mataram pun mandiri, berdiri sebagai kerajaan sendiri. Sejarah itu yang menobatkan Tombak Kiai Ageng Pleret sebagai . tombak sakti itu. Ini merupakan pusaka Kraton Yogyakarta yang dianggap paling ampuh dibanding pusaka lain. Pengakuan itu juga menyangkut perlakuan. Tombak berdapur pleret ini tidak boleh dipegang sembarang orang. Hanya para raja dan pangeran sepuh yang diperbolehkan di saat upacara siraman (pencucian), jamas pusaka kraton yang dilakukan setahun sekali saban bulan Suro, hari Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Dan sebagai pengamal sastra puja, maka dalam kepercayaan Jawa berkembang macam-macam mitos di balik tuah tombak ini. Ada yang percaya tombak ini berasal dari kemaluan mubaligh Syekh Maulana Maghribi. Banyak lagi versi-versi lain yang sulit dipercayai, sejalan dengan perjalanan waktu. (bersambung/jss)