Bantu Padamkan Karhutla Pelalawan Bersama Kapolda dan Pangdam, PT SLS Turunkan Personel Hingga Alat Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:24:29 WIB

PELALAWAN - Panas dan asap masih menyelimuti sejumlah titik di wilayah Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau. Di tengah kondisi lahan yang tidak mudah ditaklukkan, sejumlah unsur bergerak bersama untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan dan Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen Agus Hadi Waluyo bahkan turun langsung ke lapangan pada Kamis (20/8), guna memastikan penanganan berjalan cepat dan terpadu. Bersama jajaran Forkopimda, personel gabungan, dan perusahaan, keduanya turut berada di garis depan penanganan karhutla di Kerumutan.

Salah satu perusahaan yang ikut memperkuat upaya tersebut adalah perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Sari Lembah Subur (PT SLS). Meski lokasi kebakaran berada di luar areal perkebunan dan cukup jauh dari wilayah operasional perusahaan, PT SLS tetap menurunkan Regu Pemadam Kebakaran (RPK) lengkap dengan personel dan peralatan untuk membantu proses pemadaman.

Sebanyak 14 personel RPK PT SLS diterjunkan ke lokasi. Mereka didukung satu unit Pompa Mini Strike, empat unit Pompa Kohsin, enam nozzle TFT 1,5 inch, 12 roll hose 1,5 inch, serta enam unit handy talkie (HT) untuk mendukung koordinasi di lapangan.

Dukungan tersebut diperkuat satu unit excavator PC 200. Alat berat ini tidak sekadar digunakan untuk membuka akses, tetapi juga membantu membuat kantong-kantong air di sekitar area kebakaran. Ketersediaan kantong air menjadi penting bagi timo pemadam untuk memperoleh pasokan air yang lebih dekat dengan titik api sekaligus mendukung proses pemadaman dan pendinginan.

Walau lokasi kebakaran yang ditangani tidak berdekatan dengan wilayah operasional perusahaan. Kondisi tersebut tidak menjadi alasan bagi perusahaan untuk tidak terlibat. PT SLS justru mengerahkan sumber daya yang dimiliki untuk membantu penanganan bersama pemerintah dan unsur terkait.

Di lapangan, tim PT SLS bekerja berdampingan dengan personel TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, pemerintah daerah, serta unsur lainnya. Bagi PT SLS, keterlibatan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitar wilayah operasional sekaligus bagian dari semangat gotong royong dalam menghadapi ancaman karhutla.

Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan mengatakan, karhutla tidak mungkin ditangani oleh satu pihak saja. Kecepatan merespons titik api dan kemampuan seluruh unsur untuk bergerak bersama menjadi faktor penting agar kebakaran tidak berkembang lebih luas.

"Karhutla tidak bisa ditangani sendiri-sendiri. TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, perusahaan dan masyarakat harus berada dalam satu gerak. Prinsipnya, begitu terdeteksi ada titik api, kita harus cepat datang, cepat memadamkan dan memastikan tidak terjadi kebakaran ulang," ujar Kapolda Riau.

Kapolda juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, termasuk PT SLS yang telah ikut bergerak dan bergotong royong menangani karhutla.

Menurut Herry, penanganan karhutla membutuhkan kecepatan respons dan kolaborasi seluruh unsur. Setiap titik api perlu ditangani sedini mungkin agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas, terutama pada kawasan dengan karakteristik lahan yang rentan terbakar.

Semangat tersebut juga sejalan dengan konsep Green Policing yang dikembangkan Polda Riau. Pendekatan ini tidak hanya menempatkan kepolisian sebagai penegak hukum, tetapi juga mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam menjaga lingkungan dan membangun kesadaran masyarakat. Polda Riau terus mendorong program ini melalui pencegahan, edukasi, patroli, deteksi dini, penegakan hukum, hingga kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat.

Menurut Kapolda, semangat Green Policing menempatkan upaya menjaga lingkungan sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan masyarakat.

Dalam konteks itulah, kehadiran perusahaan di lapangan menjadi bagian penting dari gerakan bersama. Perusahaan memiliki sumber daya, personel, sarana pemadaman, serta pengetahuan mengenai karakteristik wilayah yang dapat digunakan untuk memperkuat respons ketika terjadi karhutla, termasuk ketika kebakaran terjadi di luar areal perusahaan.

Hal serupa disampaikan Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen Agus Hadi Waluyo. Menurutnya, kondisi di lapangan membutuhkan kekuatan terpadu tanpa sekat antarinstansi.

"Kami memastikan personel di lapangan tetap bekerja bersama dan saling mendukung. Kondisi seperti ini membutuhkan kekuatan terpadu. Tidak ada sekat TNI, Polri maupun instansi lainnya ketika yang kita hadapi adalah ancaman terhadap masyarakat dan lingkungan," kata Agus.

Ia juga turut  mengapresiasi personel gabungan yang tetap bekerja di tengah medan dan kondisi lapangan yang tidak mudah.

*Hadir Bersama Menjaga Lingkungan*

Keterlibatan PT SLS dalam penanganan karhutla di Kerumutan merupakan kelanjutan dari upaya kesiapsiagaan yang telah dibangun perusahaan sebelumnya.

Memasuki periode dengan potensi risiko kebakaran yang tinggi, PT SLS secara rutin memperkuat kesiapan RPK, memastikan peralatan pemadaman dalam kondisi siap digunakan, melakukan patroli dan pemantauan wilayah, serta membangun koordinasi dengan pemangku kepentingan di sekitar wilayah operasional.

Upaya tersebut dilakukan tidak hanya untuk menjaga areal perusahaan, tetapi juga untuk membangun kesiapsiagaan bersama di wilayah sekitar. Ketika terjadi kebakaran di luar areal perkebunan, sumber daya yang dimiliki perusahaan pun dapat dikerahkan untuk membantu penanganan bersama sesuai kebutuhan di lapangan.

Perusahaan juga melibatkan masyarakat dalam upaya pencegahan. Penguatan Masyarakat Peduli Api (MPA), patroli bersama, edukasi mengenai bahaya karhutla, hingga peningkatan kapasitas kelompok masyarakat dan pemuda menjadi bagian dari pendekatan yang dilakukan agar pencegahan tidak hanya bergantung pada tim pemadam perusahaan.

Sebelumnya, PT SLS juga aktif melakukan penguatan kapasitas masyarakat dan lingkungan pendidikan melalui kegiatan edukasi dan pelatihan pemadaman. Pendekatan tersebut dibangun dari pemahaman bahwa pencegahan kebakaran akan jauh lebih efektif apabila masyarakat di sekitar wilayah rawan memiliki pengetahuan dan kesiapan untuk mengenali potensi kebakaran sejak dini.

Di sisi operasional, kesiapsiagaan juga terus diuji melalui patroli dan respons terhadap kejadian kebakaran di luar wilayah operasional perusahaan. Pada Juli 2026, misalnya, tim RPK PT SLS turut membantu pemadaman kebakaran lahan di Dusun Pematang Tengah, Desa Mak Teduh, Kecamatan Kerumutan.

Kebakaran tersebut juga terjadi jauh di luar areal perkebunan PT SLS. Meski demikian, perusahaan tetap mengerahkan tim dan peralatan untuk membantu proses pemadaman sebagai bagian dari kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat di wilayah sekitar.

Community Development Officer (CDO) PT SLS, Ginanjar Maolid, mengatakan perusahaan berupaya memastikan sumber daya yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk membantu penanganan karhutla bersama seluruh pihak.

"Prinsip kami adalah hadir terdepan ketika ada kondisi yang membutuhkan dukungan. Walaupun kebakaran terjadi di luar areal perusahaan, personel dan peralatan kami kerahkan untuk memperkuat penanganan di lapangan. Ini adalah kerja bersama untuk menjaga lingkungan dan masyarakat," ujar Ginanjar.

Menurutnya, pembuatan kantong-kantong air dengan dukungan alat berat menjadi salah satu bagian penting dalam membantu tim pemadam di lokasi. Selain mempermudah akses terhadap sumber air, langkah tersebut diharapkan dapat mendukung proses pemadaman dan pendinginan di area terdampak.

Bagi PT SLS, kolaborasi dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan masyarakat bukan hanya diperlukan ketika kebakaran terjadi. Kerja sama tersebut perlu dibangun sejak tahap pencegahan agar setiap pihak memahami peran dan dapat bergerak cepat ketika kondisi darurat muncul.

Semangat ini sejalan dengan prinsip Green Policing yang menempatkan keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Di Riau, pendekatan tersebut terus dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor, karena persoalan lingkungan pada akhirnya juga berkaitan erat dengan keselamatan dan kehidupan masyarakat.

Sebagai bagian dari PT Astra Agro Lestari Tbk, PT SLS terus memperkuat kesiapsiagaan dan kolaborasi dalam menghadapi ancaman karhutla. Mulai dari penguatan sumber daya manusia, kesiapan sarana dan prasarana, patroli, pembinaan masyarakat, hingga dukungan langsung dalam pemadaman ketika kebakaran terjadi, termasuk saat kebakaran berada di luar areal perkebunan.

Bagi perusahaan, menjaga lingkungan bukan pekerjaan yang selesai ketika api padam. Ia merupakan proses panjang yang membutuhkan kesiapan, kepedulian dan kemauan untuk bergerak bersama.

Melalui semangat “Sinergi Bumi dan Manusia untuk Satu Indonesia”, PT Sari Lembah Subur berkomitmen untuk terus mengambil bagian dalam menjaga lingkungan sekaligus mendukung keselamatan masyarakat melalui kolaborasi dan aksi nyata di lapangan.(*)

Terkini